1 Mei: Peringatan Hari Asma Sedunia

  • Bagikan

1 Mei: Peringatan Hari Asma SeduniaBetantt.com, Asma adalah penyakit peradangan pada saluran nafas yang kronik. Biasanya seseorang yang berpenyakit asma akan mengeluhkan sesak nafas, nafas berbunyi “ngik-ngik”, batuk, dan rasa tidak enak di dada.

Serangan ini biasanya sering terjadi pada malam hari atau menjelang subuh/pagi hari. Asma adalah penyakit yang banyak diderita oleh sebagian besar masyarakat, terutama adalah anak-anak.

Penyakit sangat berkaitan erat dengan faktor keturunan. Bila salah satu atau kedua orangtua, maupun kakek atau nenek menderita asma, maka sang anak pun kemungkinan akan menderita asma.

Tetapi banyak juga terjadi ketika kedua orang tua tidak menderita asma, tetapi anaknya asma.Selain disebabkan faktor keturunan, faktor lain pun dapat memicu timbulnya asma, seperti faktor alergi yang dimiliki oleh seseorang dan juga faktor lingkungan.

Asma sering menimpa seseorang baik karena keturunan maupun sebab lainnya seperti alergi, polusi, stress dan lainnya. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita asma di dunia diperkirakan mencapai 300 juta orang, angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 400 juta orang pada 2025.

Di dunia, penyakit asma termasuk 5 besar penyebab kematian. diperkirakan 250.000 orang kematian setiap tahunnya karena asma. Tingginya angka ini banyak disebabkan oleh kontrol asma yang buruk serta sikap pasien dan dokter yang seringkali meremehkan tingkat kontrol asma.

Sementara itu, harga obat untuk penderita asma tetap mahal. Memang sudah diakui bahwa obat terbaik untuk asma adalah obat berbentuk inhalasi.

Namun ini belum dapat dilakukan dengan baik karena mahalnya harga obat tersebut. Mahalnya harga obat untuk penderita asma ini membuat pemerintah perlu menganggarkan dana untuk bantuan biaya pengobatan asma.

Setiap tahun Depkes RI menyediakan anggaran bantuan pengobatan penderita asma sejumlah Rp. 232 pada tahun 2010 lalu.

1 Mei - 5 Mei, Peringatan Hari Asma Sedunia.
1 Mei – 5 Mei, Peringatan Hari Asma Sedunia.

Berdasarkan hasil penelitian oleh ahli asma di Asia Pasifik dalam studi “Asthma Insight & Reality in Asia Pasific (AIRIAP 2)” di 2007, hanya 2% dari 4805 orang sample penyandang asma di Asia Pasifik yang mempelajari bagaimana mengontrol penyakit asma mereka.

Menurut Dr Paramitha dari Yayasan Asma Indonesia mengatakan bahwa “Asma sebetulnya tidak bisa disembuhkan, tetapi asma bisa terkontrol dengan baik, kita berharap dari Yayasan Asma Indonesia, bahwa penderita asma di Indonesia bisa mengontrol asmanya supaya tidak mengganggu aktivitas dan tidak menyebabkan kematian.

Seringkali anggota keluarga, sahabat atau bahkan Anda sendiri mengalami gangguan penyakit asma yang mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari baik kegiatan di siang hari ataupun ketika beristirahat di malam hari.

Berdasarkan riset ternyata konsep penatalaksanaan asma masih berupa penanganan dalam mengobati gejala asma dan serangan asma padahal seharusnya penyandang menerapkan konsep kontrol asma yaitu melakukan pencegahan asma datang menyerang atau bisa saja dapat dihilangkan.

Menurut Global Strategy For Astma Management and Prevention GINA-Global Initiative for Astha (2009), seorang penyandang asma dikatakan terkontrol apabila memiliki 6 kriteria:

(1) Tidak atau jarang mengalami gejala asma;

(2) Tidak pernah terbangun di malam hari karena asma;

(3) Tidak pernah atau jarang menggunakan obat pelega;

(4) Dapat melakukan aktivitas dan latihan secara normal;

(5) Hasil tes fungsi paru-paru normal atau mendekati normal;

(6) Tidak pernah atau jarang mengalami serangan asma.

Kontrol asma dapat dilakukan dengan cara yang mudah, efektif dan efisien. dengan Asthma Control Test yang disebut (ACT) merupakan mediasi yang dapat dilakukan oleh penyandang asma untuk mengetahui tingkat atau skor asma penyandang.

Asthma Control Test (ACT) dengan nilai atau skor 25 mengkuantifikasi tingkat pencapaian masing-masing kriteria kontrol artinya penyandang sudah mencapai Total Kontrol.

Berikut ini cara mengontrol asma dengan pertanyaan ACT (Asthma Control Test) :

Pertama: Dalam 4 minggu terakhir, seberapa sering penyakit asma mengganggu anda dalam melakukan pekerjaan sehari-hari di kantor, di sekolah atau di rumah? (1) selalu;(2) sering;(3) kadang-kadang;(4) jarang;(5) tidak pernah.

Kedua : Dalam 4 minggu terakhir, seberapa sering anda mengalami sesak napas? (1) lebih dari 1 kali sehari;(2) 1 kali sehari;(3) 3-6 kali seminggu;(4) 1-2 kali seminggu;(5) tidak pernah.

Ketiga : Dalam 4 minggu terakhir, seberapa sering gejala-gejala asma (bengek, batuk-batuk, sesak napas, nyeri dada atau rasa tertekan di dada) menyebabkan anda terbangun di malam hari atau lebih awal dari biasanya? (1) 4 kali atau lebih seminggu;(2) 2-3 kali seminggu;(3) 1 kali seminggu;(4) 1-2 kali sebulan;(5) tidak pernah.

Keempat : Dalam 4 minggu terakhir, seberapa sering anda menggunakan obat semprot darurat/nebulizer (tablet/sirup) atau obat oral untuk melegakan pernapasan? (1) 3 kali atau lebih sehari;(2) 1-2 kali sehari;(3) 2-3 kali seminggu;(4) 1 kali seminggu atau kurang;(5) tidak pernah.

Kelima : Bagaimana penilaian anda terhadap tingkat kontrol asma anda dalam 4 minggu terakhir? (1) tidak terkontrol sama sekali;(2) kurang terkontrol;(3) cukup terkontrol;(4) terkontrol dengan baik;(5) terkontrol sepenuhnya.

Untuk mengetahui hasil kontrol asma anda maka jumlahkan angka dari setiap jawaban pertanyaan yang telah anda pilih menurut kontrol yang anda biasa lakukan. Bila skor < 20 (asma anda tidak terkontrol), bila skor 20-24 (tingkat kontrol asma anda baik), bila skor 25 (asma anda terkontrol).

Sebenarnya penyakit asma ini bukanlah penyakit yang menakutkan. Penyakit asma dapat dikendalikan, kambuhannya dapat dicegah agar tidak sering timbul dan dapat diatasi dengan cara mengkontrolnya.

Beberapa strategi untuk mengontrol asma:

1. Mengetahui dengan jelas tentang penyakit asma

Seseorang yang mengidap asma sebaiknya mengenal dengan jelas seluk beluk penyakit yang dideritanya. Mengetahui dengan jelas apa sebenarnya penyakit asma yang dideritanya itu. Pengenalan tentang asma ini sebaiknya bukan hanya untuk pasien yang menderita asma saja, tetapi juga kepada keluarganya. Dengan mengetahui dengan jelas penyakit yang di deritanya akan terbentuk sebuah motivasi positif dalam diri pasien dan keluarga untuk mengatasi asma yang diderita.

2.Mengenal faktor-faktor yang memicu kambuhnya serangan asma

Serangan asma biasanya diawali oleh faktor-faktor pemicu yang membuat penyakit ini kambuh. Dengan mengetahui, mempelajari serta memahami faktor-faktor pemicu timbulnya serangan asma yang terjadi, penderita dapat mengkontrol agar asmanya tidak sering kambuh.

Faktor-faktor pemicu serangan asma pada setiap penderita asma tidaklah sama. Faktor pemicunya dapat berupa alergi, perubahan udara, infeksi, makanan, kelelahan, obat-obatan maupun asap rokok.

Sebagian besar serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pemicunya tersebut. Dengan mempunyai kesadaran yang penuh dari penderita asma untuk mengontrol faktor pemicunya kambuhan yang sering terjadi dan membahayakan penderita tersebut dapat dihindari.

3. Pengobatan asma

Pengobatan tidak hanya dilakukan ketika serangan asma terjadi, tetapi juga saat tidak terjadi serangan. Pasien perlu memahami obat yang harus digunakan pada waktu serangan dan di luar serangan. Pada prinsipnya, pengobatan asma disesuaikan dengan berat penyakitnya.

Obat asma terbagi dalam dua kelompok, yaitu obat rutin dan obat darurat (emergency).

Obat rutin adalah obat yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma. Obat ini dipakai secara terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama, tergantung pada berat ringannya penyakit asma yang diderita. Obat rutin ini harus digunakan setiap hari, untuk mencegah terjadinya kambuhan serangan dan bertambah beratnya penyakit asma itu.

Obat emergency adalah obat yang harus segera digunakan ketika serangan asma datang. Obat ini berfungsi untuk meredakan serangan atas asma yang sedang terjadi. Penggunaan obat ini dapat mencegah timbulnya serangan asma yang berat.

Bila serangan sudah dapat diatasi, obat emergency tak diperlukan lagi.

4. Olahraga teratur

Banyak orang yang mengatakan bahwa penderita asma tak boleh berolahraga, karena akan memicu timbulnya serangan asma. Pendapat ini sungguh tidak benar. Penderita asma justru harus melakukan olahraga secara teratur.

Penderita asma sering mengalami sesak nafas, sehingga perlu adanya latihan olahraga pada tubuhnya agar otot-otot yang ada dalam tubuh dapat bekerja secara teratur, terutama otot-otot pada fungsi pernafasan.

Sebelum melakukan olahraga sebaiknya penderita asma melakukan latihan pemanasan terlebih dahulu. Jika perlu, dapat menggunakan obat sebagai pencegahan sebelum melakukan aktivitas olahraga.

5. Secara teratur mengkontrol asma ke dokter

Penderita asma sebaiknya melakukan kontrol secara teratur ke dokter. Dengan melakukan kontrol secara teratur ini penderita dapat mengetahui dengan jelas bagaimana perkembangan dari penyakit yang dideritanya, dan mungkin pula dilakukan penyesuaian atas obat-obat yang dipergunakannya sesuai dengan kondisi tubuhnya.

Ketika melakukan kontrol ke dokter itu perlu adanya komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien dan juga keluarganya. Pasien jangan malu untuk banyak menanyakan perkembangan penyakitnya dan dokter pun jangan pelit untuk memberikan penjelasan agar pasien mengerti dan memahami penyakitnya.Dengan disiplin dan rutin mengontrol asma yang dideritanya, para penderita asma dapat hidup secara normal dan wajar. Mengurangi serangan yang akan terjadi dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari yang dilakukan. Hidup dengan asma tidak lagi bermasalah dengan disiplin anda untuk mengontrolnya.

Pengertian Tentang Penyakit Asma

Asma merupakan salah satu penyakit tidak menular yang paling utama. Ini adalah penyakit kronis pada saluran pernapasan dari paru-paru yang meradang dan membuatnya menyempit.

Asma adalah suatu kelainan berupa peradangan kronik saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran napas (hiperaktifitas bronkus) sehingga menyebabkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk terutama pada malam atau dini hari.

Penyebab pasti dari penyakit asma belum diketahui.
Para peneliti berpikir beberapa interaksi faktor genetik dan lingkungan bisa menyebabkan asma, paling sering terjadi pada awal kehidupan.

Faktor-faktor ini meliputi

• Kecenderungan untuk mengembangkan alergi, yang disebut atopi (AT-o-pe)
• Orangtua yang memiliki asma
• Infeksi saluran pernapasan tertentu selama masa kanak-kanak (ISPA)
• Kontak dengan beberapa alergen udara atau paparan ke beberapa infeksi virus pada masa bayi atau pada anak-anak usia dini ketika sistem kekebalan tubuh berkembang.
Jika ada riwayat asma dalam keluarga, paparan iritan (misalnya, asap rokok) dapat membuat saluran pernapasan lebih reaktif terhadap zat di udara.

Pemicu Terjadinya Asma

Serangan asma dapat terjadi ketika terpapar “pemicu asma” yang dapat berupa :
• Alergen dari debu, bulu binatang, kecoa, jamur, dan serbuk sari dari pohon, rumput, dan bunga
• Iritan seperti asap rokok, polusi udara, bahan kimia atau debu di tempat kerja, senyawa dalam produk dekorasi rumah, dan semprotan (seperti hairspray)
• Obat-obatan seperti aspirin atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain dan nonselektif beta-blocker
• Sulfit dalam makanan dan minuman
• Infeksi virus pernapasan bagian atas, seperti pilek
• Aktivitas fisik, termasuk olahraga

Siapa yang berisiko terkena asma?

Menurut WHO, asma adalah penyakit umum di antara anak-anak. Sebenarnya asma mempengaruhi orang-orang dari segala usia, tetapi paling sering dimulai pada masa kanak-kanak karena:
• Memiliki infeksi pernapasan (risiko tertinggi)
• Memiliki alergi, eksim (kondisi alergi pada kulit)
• Orangtua memiliki asma

Di antara anak-anak, anak laki-laki memiliki kecenderungan terkena asma lebih sering dibandingkan anak perempuan. Tapi di antara orang dewasa, wanita lebih sering terkena penyakit ini dibanding pria.

Tidak jelas bagaimana seks dan hormon seks memainkan peran dalam menyebabkan asma.

Beberapa orang yang terkena kontak dengan iritasi kimia tertentu atau debu industri di tempat kerja memiliki risiko tinggi asma. Jenis asma ini disebut occupational asthma.

Tanda-tanda & Gejala Asma

Tanda dan gejala asma adalah sebagai berikut :

• Batuk. Batuk asma sering lebih buruk pada malam hari atau pagi, sehingga sulit untuk tidur.
• Mengi. Mengi adalah suara siulan yang melengking yang muncul ketika bernapas.
• Dada sesak. Ini mungkin terasa seperti ada sesuatu menekan pada dada.
• Sesak napas. Beberapa orang yang memiliki asma mengatakan mereka tidak bisa bernapas atau mereka merasa kehabisan napas.
• Gejala berat bisa berakibat fatal sehingga penting untuk mengobati gejala ketika Anda pertama kali menyadarinya sehingga tidak menjadi parah.

Faktor Pencetus

Faktor pencetus adalah faktor yang dapat memicu timbulnya asma. Tiap individu mempunyai faktor pencetus yang tidak selalu sama atau berbeda. Factor pencetus tersebut adalah :

• Bulu binatang
• Asap rokok
• Asap rumah tangga
• Debu pada bantal dan kasur
• Bau-bauan yang menusuk
• Obat semprot pembunuh serangga
• Tepung sari dan bunga/tumbuhan
• Perubahan cuaca
• Kecapaian, kelelahan
• Psikologis/stres
• Sakit flu
• Makanan/minuman tertentu : ikan laut, udang, kedelai, telur, susu, minuman bersoda.
• Obat-obatan tertentu : aspirin, antibiotik, steroid

Pengobatan Asma

Ada dua tujuan dalam pengobatan penyakit asma, yaitu meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh. Untuk mendukung tujuan tersebut, diperlukan rencana pengobatan dari dokter yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Rencana pengobatan meliputi cara mengenali dan menangani gejala yang memburuk, serta obat-obatan apa yang harus digunakan.

Penting bagi pasien untuk mengenali hal-hal yang dapat memicu asma mereka agar dapat menghindarinya. Jika gejala asma muncul, obat yang umum direkomendasikan adalah inhaler pereda.

Bilamana terjadi serangan asma dengan gejala yang terus memburuk (secara perlahan-lahan atau cepat) meskipun sudah ditangani dengan inhaler atau obat-obatan lainnya, maka penderita harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Meski jarang terjadi, serangan asma bisa saja membahayakan nyawa. Bagi penderita asma kronis, peradangan pada saluran napas yang sudah berlangsung lama dan berulang-ulang bisa menyebabkan penyempitan permanen.

Mengendalikan Penyakit Asma

Jika Anda kebetulan mengidap asma atau hidup dengan asma sejak lama, jangan cemas dengan kondisi ini karena asma merupakan penyakit yang masih dapat dikendalikan.
Yang terpenting adalah anda harus :

  • Mengenali dan menghindari pemicu asma.
  • Mengikuti rencana penanganan asma.
  • Mengenali serangan asma dan melakukan langkah pengobatan yang tepat.
  • Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
  • Memonitor kondisi saluran napas.

Jika penggunaan inhaler pereda asma reaksi cepat makin meningkat, segera konsultasikan kepada dokter agar rencana penanganan asma Anda disesuaikan kembali.

Selain itu, disarankan untuk melakukan vaksinasi influenza dan pneumonia secara teratur untuk mencegah memburuknya penyakit asma yang disebabkan kedua penyakit tersebut. (*)

Last Update: 8 Juni 2021

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *