Beranda Desa Adat Eksplorasi Desa Moni Ende di Bawah Kaki Gunung Kelimutu

Eksplorasi Desa Moni Ende di Bawah Kaki Gunung Kelimutu

Karena letaknya di kaki Gunung Kelimutu, udara di Desa Moni sangat sejuk, terlebih di malam hari. Ada baiknya menggunakan jaket untuk menghalau atau mengurasi rasa dingin. Jangan lupa setel alarm untuk membangunkan anda dari tidur.

Di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah desa wisata bernama Desa Moni. Desa ini memiliki pemandangan berupa perbukitan serta sawah dengan sistem terasering. Karena keindahan alamnya, tak heran jika Desa Moni cukup dikenal oleh para wisatawan. Desa Moni juga sering digunakan sebagai tempat singgah bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Danau Kelimutu.

Desa Moni merupakan desa yang paling dekat dari Taman Nasional Gunung Kelimutu
Desa Moni merupakan desa yang paling dekat dari Taman Nasional Gunung Kelimutu

Jika ingin menyaksikan keindahan panorama matahari terbit di Gunung Kelimutu yang merupakan salah satu pemandangan sunrise terbaik di Indonesia bahkan dunia maka sangat disarankan bermalam di Desa Moni terlebih dahulu.

Baca juga: Kampung Adat Wologai Ende: Berkunjung ke Desa Adat Berusia Ratusan Tahun

Desa Moni merupakan desa yang paling dekat dari Taman Nasional Gunung Kelimutu
Desa Moni merupakan desa yang paling dekat dari Taman Nasional Gunung Kelimutu

Mengapa? Karena desa ini merupakan desa yang paling dekat, terletak di kaki Gunung Kelimutu. Selain itu pemandangan yang tersaji di desa ini juga indah dimana terbentang hamparan sawah hijau yang luas dengan sistem teraseringnya, bukit – bukit yang memagari desa serta terdapat juga air terjun yang menyegarkan.

Akses menuju Desa Moni sangat mudah, jika anda datang dari Maumere maka anda bisa menggunakan bus atau travel tujuan Ende, sebaliknya jika anda datang dari Ende maka naiklah bus atau travel tujuan Maumere, karena rute Maumere – Ende nantinya akan melewati Desa Moni.

Jarak yang harus ditempuh menuju Desa Moni dari Maumere adalah sekitar 70 Km dan dapat ditempuh dalam waktu 3 jam perjalanan, sedangkan jika dari Ende maka jaraknya adalah sekitar 52 Km dengan waktu tempuh 2 jam perjalanan.

Baca Juga:   Pantai Abudenok Malaka, Panorama Sunrise di Selatan Pulau Timor

Baca juga: Pantai Penggajawa Ende, Hamparan Pesona Batu Biru dari Flores

Di Desa Moni banyak yang menawarkan penginapan bagi wisatawan, harganya mulai dari Rp150.000 hingga Rp350.000 tergantung dari fasilitas yang didapatkan.

Air Terjun Murundao yang berada di Desa Moni, di sore hari banyak warga lokal yang bermain disini.
Air Terjun Murundao yang berada di Desa Moni, di sore hari banyak warga lokal yang bermain disini.

Jika telah mendapatkan penginapan maka tanyakan pada pemilik atau penjaga penginapan mengenai transportasi yang bisa mengantarkan anda menuju area Taman Nasional Gunung Kelimutu. Banyak pilihannya, anda bisa menyewa mobil, motor atau menggunakan jasa ojek yang biasanya telah bekerja sama dengan pemilik penginapan.

Untuk mencapai danau ini, wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Desa Moni
Untuk mencapai danau ini, wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Desa Moni

Karena letaknya di kaki Gunung Kelimutu, udara di Desa Moni sangat sejuk, terlebih di malam hari. Ada baiknya menggunakan jaket untuk menghalau atau mengurasi rasa dingin. Jangan lupa setel alarm untuk membangunkan anda dari tidur.

Baca juga: Menengok Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende

Merupakan kerugian amat besar jika telah sampai di Desa Moni namun harus kehilangan momen matahari terbit di Kelimutu. Oleh karena itu siapkan diri anda, jarak antara Desa Moni dengan area parkir Taman Nasional Gunung Kelimutu adalah sekitar 15 Km yang bisa ditempuh selama 30 menit dengan kendaraan bermotor. Jadi, sangat disarankan memulai perjalanan dari Desa Moni menuju Kelimutu pada pukul 03.30 agar dapat menyaksikan suasana matahari terbit yang menawan.

Kampung Adat Moni – Koanara

Di Desa Moni terdapat sebuah kampung dengan Rumah adat yang eksotik., yaitu kampung adat Moni-Koanara.

Baca Juga:   Pantai Nemberala, Surganya Pulau Rote untuk Dunia

Kampung adat Koanara terletak di kaki gunung Kelimutu,Flores, skitar 52 km dari Kota Ende. Rumah adat Koanara mempunyai bentuk yang unik, terbuat dari bahan lokal kayu dan atapnya terbuat dari ilalang dan ijuk yang bagian bawahnya hampir menyentuh tanah. Bahan-bahan kayu untuk membangun rumah ini berasal dari hutan di Kelimutu yang ditebang dengan serangkaian upacara.

Di Desa Moni terdapat sebuah kampung dengan Rumah adat yang eksotik., yaitu kampung adat Moni-Koanara.
Di Desa Moni terdapat sebuah kampung dengan Rumah adat yang eksotik., yaitu kampung adat Moni-Koanara.

Baca juga: Wisata Panta Ria Andalan Kota Ende

Ada tiga jenis rumah adat disini, yaitu rumah Baku, rumah tinggal, dan lumbung padi. Rumah Baku adalah rumah yang digunakan untuk menyimpan tulang-belulang para leluhur, Rumah Lumbung adalah tempat penyimpanan hasil panen sawah, Rumah Tinggal (Sa’o) yaitu rumah yang dapat ditempati, dengan lambang kepala kerbau yang terdapat di depan pintu rumah (Sa’o).

Di kampung ini terdapat 2 Sa’o, yaitu Sa’o Ria dan Sa’o Kedha. Rumah adat Sa’o Ria atau lengkapya Sa’o Ria Laki Ine Ongga Ame, sudah berumur hampir 200 tahun. Sa’o berarti rumah, dan Ria berarti besar. Laki Ine adalah pemberian tanah, sementara Ongga Ame adalah nama leluhur.

Wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Kampung Moni
Wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Kampung Moni

Sebagai bangunan utama, Sa’o Ria terlihat besar dan luas daripada rumah lain di sekitarnya. Rumah panggung yang besar ini tidak memiliki jendela. Atap Sa’o Ria yang membentang hingga turun ke batas lantainya membuat dindingnya tidak nampak jelas. Sa’o Ria membentang tinggi, makin ke atas mengecil, hingga bubungan yang memanjang sejajar dengan pintu masuknya.

Saga
Saga

Baca juga: Pantai Mbu’u Nanganesa Wisata Bahari di Pusat Kota Ende

Baca Juga:   Pulau Sebayur Komodo, Jelajahi Aktivitas Snorkeling dan Diving di Labuan Bajo

Sa’o Ria adalah tempat tinggal Ata Laki Pu’u beserta saudara-saudaranya yang tinggal di dalamnya, juga sebagai ibu dan bapak, naungan bagi suku untuk menjamin kesatuan seluruh warganya karena Sa’o Ria dibangun dengan gotong-royong, maka ia mempersatukan seluruh anggota suku.

Kanga
Kanga

Rumah adat Sa’o Kedha,tidak berdinding karena hanya digunakan sebagai tempat pertemuan adat beberapa kali setahun. Jika Sa’o Ria dianggap sebagai simbol wanita untuk keberlangsungan kehidupan, maka Sa’o Kedha dianggap sebagai simbol lelaki yang memimpin. Secara vertikal rumah adat ini dibagi dalam tiga ruang yaitu Lweu (kolong), One (ruang tengah) dan Padha (loteng).

Sa'o Kedha
Sa’o Kedha

Tidak jauh dari Sa’o Ria terdapat dua bangunan yang lebih kecil dari Sa’o yaitu Kuwu dan Kebo. Kuwu digunakan untuk menjamu tamu-tamu yang datang atau kadang untuk menyimpan peti jenazah sebelum upacara pemakaman, sementara Kebo berfungsi sebagai lumbung tempat menyimpan cadangan makanan. Juga ada Lewa, naungan kecil tempat memasak makanan untuk upacara.

Sa'o Ria
Sa’o Ria

Di Kampung ini terdapat pelataran bundar dengan susunan batu-batu pipih yang tersusun rapi yang disebut Kanga. Tempat ini merupakan tempat suci dan simbol kekuasaan. Di situlah nenek moyang dikuburkan dan disuguhi upacara persembahan.

Kuwu
Kuwu

Juga terdapat bangunan kecil yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk tempat melkukan upacara adat . dengan meletakkan siri pinang  sebagai persembahan untuk  Du’a Ngga’e (Tuhan).

Peta Lokasi Desa dan Kampung Adat Moni

Danau Tiga Warna Kelimutu Ende

KOMENTAR ANDA