Beranda Travelling Cagar Alam dan Taman Nasional Pantai Motadikin dan Maubesi, Pesona Rai Malaka di Perbatasan NKRI-Timor Leste

Pantai Motadikin dan Maubesi, Pesona Rai Malaka di Perbatasan NKRI-Timor Leste

Selain memiliki potensi alam, beberapa daerah memiliki keindahan alam dan budaya yang dapat dijadikan sebagai tempat strategis untuk promosi pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satunya adalah adat dan tari-tarian di Malaka.

0
116

Pantai Motadikin dan Cagar Alam Maubesi

Pantai Motadikin dan Cagar Alam Maubesi – Kabupaten Malaka adalah salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Malaka merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Belu yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada 14 Desember 2012 di gedung DPR RI tentang Rancangan UU Daerah Otonomi Baru (DOB).

Pantai Motadikin, Railor Tahak, Malaka Tengah, Malaka, Nusa Tenggara Timur
Pantai Motadikin, Railor Tahak, Malaka Tengah, Malaka, Nusa Tenggara Timur

Selain memiliki potensi alam, beberapa daerah memiliki keindahan alam dan budaya  yang dapat dijadikan sebagai tempat strategis untuk promosi pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satunya adalah adat dan tari-tarian di Malaka.

Baca juga: Fulan Fehan, Festivalnya serta Perpaduan Keindahan Budaya di Timor

Kabupaten Malaka letaknya yang strategis berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste. Kabupaten Malaka ini memiliki sejumlah potensi wisata yang layak dijual kepada wisatawan, baik domestik maupun luar negeri. Kabupaten ini banyak dikelilingi oleh perbukitan dan pantai berpasir putih yang indah menawan yang salah satunya adalah Pantai Motadikin berdekatan dengan Cagar Alam Maubesi yang eksotis.

Pantai Motadikin

Pantai Motadikin merupakan salah satu pantai nan eksotis yang berada di wilayah selatan Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pantai ini dapat Anda tempuh dari Atambua, Kab Belu dengan jarak sekitar 70 kilometer dengan menggunakan kendaraan darat selama sekitar 1 jam perjalanan.

Di pantai ini Anda dapat menyaksikan bentangan tambak-tambak ikan disepanjang garis pantai serta menikmati keindahan sunset dan bulan purnama. Nah pada waktu senja, Anda juga dapat menikmati panorama indah pegunungan Australia Selatan yang megah.

Baca juga: Wisata Kolam Susuk Atambua, Lagu Koes Plus dan Lokasi Syuting Film

Di pantai berpasir putih bersih dengan air lautnya yang jernih bagaikan kristal ini Anda dapat melakukan aktivitas berenang atau berjemur matahari. Sementara pada bulan Januari hingga Maret, ombak di Pantai Motadikin cukup besar sehingga Anda dapat melakukan aktivitas berselancar untuk menaklukan ombak Samudra Hindia yang cukup ganas.

Kawasan itu merupakan salah satu tujuan wisata favorit yang ramai dikunjungi warga Indonesia di perbatasan RI dan Timor-Leste. Sebuah gapura dengan panjang 10 meter dan lebar 3 meter terpajang di pintu masuk kawasan pantai wisata Motadikin. Di papan gapura tertulis ”Selamat datang di Pantai Wisata Motadikin.”

Di salah satu sisi gapura terdapat pos jaga. Sayang, kaca bangunan pos itu pecah berhamburan di lantai. Belum diketahui apa tujuan dan siapa yang melakukan hal itu. Sekitar 10 meter dari gapura, saat memasuki kawasan pantai, terdapat tulisan lagi di sisi kiri jalan, ”Kawasan Cagar Alam Maubesi”. Cagar alam ini ditetapkan dengan keputusan Menteri Kehutanan Nomor 394/Kpts/Um/5/2011 tanggal 7 Mei 2011. Luas kawasan 3.246 hektar (ha).

Baca juga: Pantai Teluk Gurita Atapupu di Atambua. Keindahan Diperbatasan NKRI-Tiles

Di kawasan itu terdapat Pantai Motadikin dengan panjang garis pantai sekitar 10 km. Sepanjang bibir pantai dihuni sekitar 220 keluarga. Mereka adalah petani-nelayan lokal dan warga dari luar. Ratusan perahu nelayan rapi berjajar di sepanjang garis pantai. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat bagi nelayan.

Tampak rumah semut dengan ketinggian sekitar 1 meter dari permukaan tanah bertebaran tak beraturan di sejumlah titik di kawasan cagar alam. Tampak pula hamparan berbagai jenis pohon bakau di sepanjang pesisir. Di situ ada delta dan muara Sungai Benanain.

Di muara Sungai Benanain, warga menebar benih udang dan bandeng. Selain berwisata pantai, pengunjung dapat memanfaatkan waktu untuk berbelanja ikan air tawar dan udang di tambak itu.

Sekitar 3 km sebelum memasuki kawasan Cagar Alam Maubesi, pengunjung bisa menyaksikan kampung adat Maneken, di Desa Fahiluka. Kampung ini terletak sekitar 150 meter dari ruas jalan menuju Pantai Motadikin. Warga setempat belum mau menerima listrik, televisi, radio, komputer, dan hasil teknologi lain. Mereka lebih suka menggunakan peralatan tradisional dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sebagian kawasan delta Maubesi terkenal dengan buaya muara. Hampir setiap tahun ada kasus kematian warga lokal karena digigit buaya. Sejak 2006-2016, sebanyak 17 warga tewas akibat diserang buaya. Tidak heran, jika pada pintu masuk Pantai Motadikin terdapat papan peringatan bertuliskan ”Sayangilah jiwa Anda. Waspadalah terhadap kehadiran buaya di sekitar Anda”.

Pemerintah Kabupaten Malaka menempatkan dua pawang buaya untuk menjaga pantai itu. Mereka adalah anggota staf Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka. Pawang buaya memiliki keterampilan khusus menghalau dan menjinakkan buaya.

Selama ini belum ada buaya yang memasuki kawasan Pantai Motadikin. Buaya biasanya ditemukan di luar kawasan pantai motadikin malaka, terutama di wilayah muara Benanain.

Bibir Pantai Motadikin dengan pasir berwarna abu-abu kehitaman memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Pantai ini terus menarik minat pengunjung. Setiap hari libur dan sore hari, Motadikin dikunjungi penduduk lokal, terutama kaum muda. Mereka berolahraga, berenang, bernyanyi, bercengkerama, dan berlatih olahraga bela diri.

Motadikin berada di kawasan Cagar Alam Maubesi. Sekitar 4 km arah timur Cagar Alam Maubesi terdapat garis batas negara Timor-Leste, tepatnya di Distrik Suai. Titik batas negara itu ditandai dengan Sungai Telus, cabang Sungai Benanain. Embusan angin disertai percikan air laut membuat tubuh terasa sejuk dan nyaman.

Jajaran pohon kelapa sepanjang pantai diselingi rimbunan pohon bakau dan pohon waru melengkapi keindahan panorama pantai. Namun, di musim hujan pantai tampak kurang terawat. Pemkab Malaka memanfaatkan pantai itu untuk berbagai kegiatan, terutama pelantikan pejabat, seperti kepala desa, pimpinan SKPD, dan seminar yang diselenggarakan pemerintah.

Pemanfaatan Pantai Motadikin oleh pemda berlangsung sejak Malaka masih bergabung dengan kabupaten induk, yakni Belu. Malaka menjadi daerah otonom sejak 2013. Para nelayan yang berdiam di bibir pantai sangat ramah. Mereka menyapa setiap pengunjung dengan sapaan maun yang berarti saudara atau teman. Para nelayan ini tidur di rumah panggung dengan ketinggian sekitar 4 meter dari permukaan tanah. Tujuannya untuk menghindari banjir dan ancaman buaya.

Cagar Alam Maubesi

Harga Tiket Masuk

Jumlah pengunjung ini sesuai jumlah karcis yang dikeluarkan. Sejak tahun 2016, diberlakukan karcis masuk pantai atau kawasan cagar alam. Orang dewasa Rp 2.000 per orang, anak-anak Rp 1.000 per orang, kendaraan roda empat Rp 5.000 per unit, dan sepeda motor Rp 3.000 per unit.

Fasilitas dan Akomodasi

Tahun 2002, Pemda Belu membangun 10 lopo, rumah teduh berbentuk lingkaran berukuran sekitar 12 meter persegi dengan bangku duduk. Bangunan ini dilengkapi kamar mandi dan kakus. Lopo beratap ilalang tanpa dinding. Satu unit lopo cukup untuk 10 orang. Sayang, bangunan tersebut tidak dirawat.

Lopo-lopo itu diterjang angin hingga rusak pada 2010. Tidak hanya lopo, akses jalan menuju pantai perlu pembenahan. Jarak dari Betun, baik menuju Pantai Motadikin maupun kawasan Cagar Alam Maubesi, hanya 15 km, tetapi butuh waktu 50 menit untuk mencapai pantai itu. Ruas jalan berlubang di sepanjang jalan.

Akses ke Lokasi

Dari Kupang, kawasan ini bisa dicapai melalui Kota Atambua dengan kendaraan umum darat. Kupang-Soe-Atambua dengan jarak sekitar 300 kilometer dan beraspal mulus dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang tujuh jam. Perjalanan dilanjutkan ke lokasi dengan jarak tempuh sekitar 65 kilometer, menggunakan bis umum atau kendaraan carteran dalam waktu lebih kurang satu jam dan sepuluh menit.

Peta Lokasi

Kabupaten Malaka

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan