Beranda Belu Wisata Kolam Susuk Atambua, Lagu Koes Plus dan Lokasi Syuting Film

Wisata Kolam Susuk Atambua, Lagu Koes Plus dan Lokasi Syuting Film

Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jalan cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupmu...

Karena keindahan yang alami dan keunikan kolam ini, membuat Yon Koeswoyo di antara personil utama Group Band Koes Plus ini terkesima. Dia lantas mengabadikan kolam tersebut dengan membuat sebuah lagu yang paling legendaris dengan judul “ Kolam Susu”.
Karena keindahan yang alami dan keunikan kolam ini, membuat Yon Koeswoyo di antara personil utama Group Band Koes Plus ini terkesima. Dia lantas mengabadikan kolam tersebut dengan membuat sebuah lagu yang paling legendaris dengan judul “ Kolam Susu”.

Betantt.com, Atambua – Keelokan alam Nusantara tergambar pas pada lagu Kolam Susu kepunyaan Koes Plus, grup legendaris asli Tuban, Jawa Timur. Tengok saja syairnya: Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jalan cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupmu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Di lembah bukit yang menghadap ke arah kolam pun sudah di bangun rumah-rumah gazebo sebagai lokasi berteduh dari terik matahari.
Di lembah bukit yang menghadap ke arah kolam pun sudah di bangun rumah-rumah gazebo sebagai lokasi berteduh dari terik matahari.

Dan, kolam susu yang dicerminkan Koes Plus tersebut bukan sekadar frasa kosong pada lagu tersebut. Kolam susu tersebut benar-benar ada. Berada di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT. Kolam susu yang nama aslinya ialah Kolam Susuk tersebut berjarak sekitar separuh jam dari Atambua, ibu kota Kabupaten Belu, yang berbatasan dengan Timor Leste.

Disekitar kolam pun ada pohon kedondong dan hutan bakau.
Disekitar kolam pun ada pohon kedondong dan hutan bakau.

Objek wisata Kolam Susuk terletak di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, kabupaten Belu atau selama 17 kilometer arah utara dari kota Atambua, ibukota Kabupaten Belu. Tidak diketahui secara tentu kapan Kolam Susuk ditemukan tetapi eksistensi objek wisata ini telah ada semenjak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk keperluan hidupnya dengan membiakan ikan, udang, kepiting, dan lain-lain.

Di atas puncak bukit yang membentuk kolam tersebut sudah dipasang suatu pigura raksasa bertuliskan Kolam Susuk.
Di atas puncak bukit yang membentuk kolam tersebut sudah dipasang suatu pigura raksasa bertuliskan Kolam Susuk.

Pada tahun 1971 group band legendaris Indonesia “Koes Plus” pernah berangjangsana ke obyek wisata ini saat melakukan perjalanan darat dari Kupang mengarah ke Dili. Karena keindahan yang alami dan keunikan kolam ini, membuat Yon Koeswoyo di antara personil utama Group Band Koes Plus ini terkesima. Dia lantas mengabadikan kolam tersebut dengan membuat sebuah lagu yang paling legendaris dengan judul “ Kolam Susu”. Selain lagu tersebut sebagai tanda mata untuk masyarakat Kabupaten Belu, grup ini menyumbangkan satu sekolah dasar (SD) dan di didirikan di tepian kolam tersebut. Sampai kini sekolah dasar itu masih ada.

Pada tahun 2009 Kolam Susuk pun pernah menjadi tempat shooting film berjudul Tanah Air Beta yang disutradarai oleh Ari Sihasale dan pada tahun 2012 film berjudul Atambua 39°C yang disutradarai oleh Mira Lesmana.
Pada tahun 2009 Kolam Susuk pun pernah menjadi tempat shooting film berjudul Tanah Air Beta yang disutradarai oleh Ari Sihasale dan pada tahun 2012 film berjudul Atambua 39°C yang disutradarai oleh Mira Lesmana.

Pada tahun 2009 Kolam Susuk pun pernah menjadi tempat shooting film berjudul Tanah Air Beta yang disutradarai oleh Ari Sihasale dan pada tahun 2012 film berjudul Atambua 39°C yang disutradarai oleh Mira Lesmana.

Objek wisata Kolam Susuk sedang di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, kabupaten Belu atau selama 17 kilometer arah unsur utara dari kota Atambua, ibukota Kabupaten Belu.
Objek wisata Kolam Susuk sedang di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, kabupaten Belu atau selama 17 kilometer arah unsur utara dari kota Atambua, ibukota Kabupaten Belu.

Melihat potensi yang besar dari objek wisata Kolam Susuk, maka melewati SK Bupati no. 12 Tahun 2000, Pemerintah Daerah Kabupaten Belu mengukuhkan objek wisata ini sebagai objek dan wisata alam dan bahari di Kabupaten Belu.

Disekitar kolam pun ada pohon kedondong dan hutan bakau. Di atas puncak bukit yang membentuk kolam tersebut sudah dipasang suatu pigura raksasa bertuliskan Kolam Susuk. Di lembah bukit yang menghadap ke arah kolam pun sudah di bangun rumah-rumah gazebo sebagai lokasi berteduh dari terik matahari.

objek wisata ini telah ada semenjak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk keperluan hidupnya dengan membiakan ikan, udang, kepiting, dan lain-lain.
objek wisata ini telah ada semenjak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk keperluan hidupnya dengan membiakan ikan, udang, kepiting, dan lain-lain.

Kolam Susuk menjadi magnet semua turis sebab memiliki karakteristik pada tanahnya yang berwarna putih. Jadi andai terkena bersitan cahaya sinar matahari, air yang terdapat di kolam akan menjadi putih layaknya air susu.

Kolam Susuk bukan satu-satunya lokasi wisata pilihan di Atambua. Di dekat Kolam Susuk ada Teluk Gurita, di antara dermaga penyeberangan di Kabupaten Belu. Jarak antara Kolam Susuk dan Teluk Gurita tidak begitu jauh. Hanya selama 3 kilometer. Tapi, jalannya… mohon ampun. Berkelok-kelok dan naik-turun dengan kemiringan yang tajam. Beberapa bagian jalan pun longsor sampai menyisakan separo badan jalan. Di samping itu, aksesnya bukan aspal mulus. Jalannya berupa jalur berbatu-batu.

Kabupaten Belu pun punya Lahurus, dataran tinggi nan sejuk, lokasi warga Atambua mendapat jaringan air bersih. Lahurus familiar lantaran area tersebut punya Gereja Katolik St Petrus, gereja tertua di Pulau Timor. Lahurus pun terkenal karena menjadi tempat kelahiran Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, salah seorang pastor asli pribumi pertama di NTT. Gabriel Manek kesudahannya menjadi uskup pertama di Larantuka.

Kini di lokasi kelahiran Gabriel Manek tersebut didirikan kapel megah untuk memperingati pastor yang begitu peduli dengan kaum papa tersebut. Di belakang kapel tersebut ada sendang (mata air) yang airnya dingin dan menyegarkan. Sesekali terdapat peziarah yang berdoa dan memungut air di sendang tersebut.

Gabriel Manek yang paling dihormati penduduk NTT tersebut meninggal dunia di Amerika Serikat pada 1989. Pada 2007, jenazahnya dipulangkan pulang ke Larantuka. Yang menakjubkan, jenazah dan pakaian yang dikenakan Gabriel Manek masih utuh seperti ketika meninggal 18 tahun sebelumnya.

Kini jenazah utuh tersebut disemayamkan dalam suatu peti besi di tengah-tengah ruang kaca pada di antara biara di Larantuka.

POSTING MENARIK LAINYYA