Eksotisme Danau 3 Warna Kelimutu, Fakta dan Sejarah

Tiwu Ata Polo (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tukan tenung atau orang jahat yang meninggal), Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah muda mudi yang meninggal), dan Tiwu Ata Mbupu (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tetua yang sudah meninggal)

0
47
Kelimutu berasal dari bahasa Flores, “keli” artinya gunung dan “mutu” artinya mendidih
Kelimutu berasal dari bahasa Flores, “keli” artinya gunung dan “mutu” artinya mendidih

Masih ingat dengan gambar di mata uang selebaran 5.000 rupiah zaman dulu? Ya, keindahan Gunung Kelimutu dengan pesona telaga tiga warnanya yang mendunia tersebut bahkan pernah diabadikan dalam mata uang rupiah kita.

Masuk ke dalam unsur dari Taman Nasional Kelimutu, nama Kelimutu sendiri berasal dari campuran kata “Keli” yang berarti gunung dan “Mutu” yang berarti mendidih.

Danau Kelimutu ( Danau Tiga Warna )

Gunung Kelimutu memiliki elevasi 1.639 mdpl atau 5.377 kaki. Lokasinya berada di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, NTT.

Gunung Kelimutu memiliki keindahan yang sangat berbeda dengan gunung-gunung di Indonesia, pasalnya Gunung Kelimutu mempunyai Tiga Danau yang terbentuk dari letusan Gunung Kelimutu puluhan tahun silam, dengan warnanya yang berbeda-beda.

Danau Kelimutu mempunyai luas tidak cukup lebih 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik, elevasi dinding kawah antara 100 sampai 200 meter.

Dinding Danau Gunung Kelimutu termasuk terjal dan curam sebab mempunyai kemiringan 60 hingga 70 derajat.

Ketiga Danau Kawah Gunung Kelimutu mempunyai keindahan yang sangat memukau dan begitu estetis sehingga dapat menjadi daya tarik untuk para pengunjung dalam negeri maupun mancanegara.

Pengunjung juga rela berlangsung kaki menaiki puluhan anak tangga dengan trek yang lumayan menanjak, melulu untuk menyaksikan lanskap Danau Kelimutu dari ketinggian.

Dari puncak, pengunjung dapat menyaksikan panorama 360 derajat yang mengelilingi Danau Kelimutu. Danau Kelimutu pun adalahtempat yang tepat untuk menonton panorama keindahan matahari terbit. Pengunjung rela mengerjakan trekking di pagi buta melulu untuk menonton keindahan sunrise dari puncak Gunung Kelimutu.

Sejarah Terbentuknya Danau Kelimutu

Meskipun hampir tidak ada literatur ilmiah tentang sejarah terbentuknya danau Kelimutu – danau 3 warna ini, tidak menghentikan pembelajaran tentang danau yang warnanya selalu berubah-ubah tersebut. Sejak pertama kali ditemukan oleh seorang komandan militer Belanda bernama B. van Suchtelen pada tahun 1915, Kelimutu mulai menyambut ketenarannya terutama setelah Y. Bouman melukiskannya lewat tulisan di tahun 1929.

Karena tulisan tersebut, mulai banyak wisatawan, terutama wistawan asing yang datang demi menikmati keindahan danau. Keindahan dan keunikan tiga warna dari danau ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan, tapi juga peneliti yang merasa kurangnya literatur ilmiah tentang danau ini. Bagi masyarakat sekitar Kelimutu, danau ini tidak lebih dari danau yang angker karena legenda masyarakat yang ada di kawasan tersebut.

Nama Kelimutu sendiri dipercaya adalah gabungan dari kata keli yang memiliki arti gunung, dan kata mutu yang berarti mendidih. Secara harfiah, Kelimutu dapat diartikan sebagai “gunung mendidih” dengan warna air yang berbeda. Warna-warna yang ada adalah biru, merah, dan hijau.

Nama dari danau yang berwarna biru adalah Tiwu Ata Bupu/Mbupu yang berarti “danau orang tua”. Sedangkan untuk danau warna hijau namanya Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, yang memiliki arti “danau muda-mudi”. Danau yang terakhir dan memiliki warna merah disebut Tiwu Ata Polo, danau sihir.

Danau 3 warna ini amat menarik bagi para ahli geologi, karena meskipun mereka ada dalam bagian gunung api yang sama, warna yang dihasilkan oleh ketiga danau ini bisa berbeda. Penjelasan dari petugas lokal yang ada di Taman Nasional Kelimutu adalah perubahan warna ini merupakan hasil dari reaksi kimia yang muncul dari mineral-mineral di dasar danau yang mungkin terpicu oleh aktivitas gas vulkan. Danau ini sendiri telah menjadi sumber dari erupsi phreatic di masa lalu, dengan puncak summit yang tingginya mencapai 1639 m.

Pada masa-masa awal pengembangan taman nasional di area Kelimutu, terjadi beberapa masalah dengan komunitas lokal tentang penggunaan sumber daya yang ada. Meki begitu, sekarang para forest ranger sudah mulai membangun hubungan yang cukup baik dengan masyarakat desa sekitar, dan dari sisi manajemen juga menjadi jauh lebih baik.

Kelimutu sendiri merupakan satu dari pegunungan yang disebut ribu, yaitu kelompok gunung dengan tinggi lebih dari 1.000 m.

Legenda atau Cerita Rakyat Danau Kelimutu

Disadur dari cerita rakyat Ende Lio

Dikisahkan, pada jaman dahulu kala, di puncak gunung Kelimutu yang disebut Bhua Ria (hutan lebat yang selalu berawan), bermukim Konde Ratu bersama rakyatnya. Di kalangan rakyat kala itu, terdapat dua tokoh yang sangat disegani, yaitu Ata Polo si tukang sihir jahat dan kejam yang suka memangsa manusia, dan Ata Bupu yang dihormati karena sifatnya yang berbelas kasih serta memiliki penangkal sihir Ata Polo. Walaupun memiliki kekuatan gaib yang tinggi dan disegani masyarakat, keduanya berteman baik serta tunduk dan hormat kepada Konde Ratu. Ata Bupu dikenal sebagai petani yang memiliki ladang kecil di pinggir Bhua Ria, sedangkan Ata Polo lebih suka berburu mangsa berupa manusia di seluruh jagat raya.

Pada masa itu, kehidupan di Bhua Ria berlangsung tenang dan tenteram, sampai kedatangan sepasang Ana Kalo (anak yatim piatu) yang meminta perlindungan Ata Bupu karena ditinggal kedua orang tuanya ke alam baka. Karena sifatnya yang berbelas kasih, permintaan kedua anak yatim piatu tersebut dikabulkan oleh Ata Bupu namun dengan satu syarat, yaitu mereka harus menuruti nasehatnya untuk tidak meninggalkan areal ladangnya agar tidak dijumpai dan dimangsa oleh Ata Polo.

Pada suatu hari, Ata Polo datang menjenguk Ata Bupu di ladangnya. Setibanya di ladang Ata Bupu, Ata Polo mencium bau menusuk (bau mangsa) dalam pondok Ata Bupu. Segera meleleh air liur Ata Polo yang kemudian hendak mencari mangsanya di dalam pondok tersebut. Niat jahat Ata Polo tersebut diketahui oleh Ata Bupu yang segera menahan langkah Ata Polo sambil menyarankan kepadanya untuk datang kembali kelak setelah anak-anak tersebut sudah dewasa, karena saat ini mereka masih anak-anak, lagi pula dagingnya tentu tidak sedap untuk disantap.

Saran ini diterima oleh Ata Polo, yang kemudian pergi meninggalkan Ata Bupu yang sedang kebingungan memikirkan cara terbaik menyelamatkan dua anak manusia tadi.
Ancaman Ata Polo tadi begitu menakutkan bagi kedua anak manusia tersebut, sehingga ketika mereka mulai beranjak remaja atau menjadi Ko’ofai (gadis muda) dan Nuwa Muri (pemuda), mereka memohon izin pada Ata Bupu untuk mencari tempat persembunyian di gua-gua yang ada di luar ladang Ata Bupu.
Mereka akhirnya berhasil menemukan sebuah gua yang terlindung tumbuhan rotan dan akar beringin.

Baca juga:

Ketika tiba saatnya, sesuai waktu yang telah disepakati, Ata Polo mendatangi pondok Ata Bupu untuk menagih janji. Namun karena ketika tiba di pondok Ata Bupu, dilihatnya kedua anak tersebut tidak berada di tempat, maka Ata Polo pun marah dan menyerang Ata Bupu dengan ganasnya. Menanggapi serangan Ata Polo yang tidak main-main, Ata Bupu segera membalas serangan itu dengan ilmu andalannya “magi puti” untuk menangkal “magi hitam” Ata Polo. Pada awalnya perkelahian keduanya berjalan seimbang karena keduanya memiliki ilmu yang tinggi dan setingkat.

Namun, lama kelamaan tenaga Ata Bupu yang sudah tua kian melemah, sementara gempuran semburan api Ata Polo semakin gencar dan menjadi-jadi. Ata Bupu hanya bisa mengelak dengan gempa bumi. Akibatnya timbul gempa bumi dan kebakaran besar hingga kaki gunung Kelimutu. Ketika merasa tak mampu lagi menandingi kekuatan Ata Polo, Ata Bupu memutuskan untuk raib ke perut bumi. Akibatnya Ata Polo menjadi semakin murka dan menggila.

Ketika mencim bau dua remaja yang tengah bersembunyi di dalam gua, Ata Polo pun bertambah beringas. Namun takdir akhirnya menentukan bahwa Ata Polo harus tewas di telan bumi karena sepak terjangnya yang kelewatan. Kedua remaja yang tengah bersembunyi juga turut menjadi korban. Gua tempat persembunyian Ko’ofai dan Nuwa Muri runtuh akibat gempa dan menguburkan keduanya hidup-hidup.

Beberapa saat setelah kejadian itu, ditempat Ata Bupu raib ke perut bumi, timbul danau berwarna biru. Di tempat Ata Polo tewas ditelan bumi terbentuk danau yang warna airnya merah darah yang selalu bergolak. Sedangkan di tempat persembunyian Ko’ofai dan Nuwa Muri, terbentuk sebuah danau dengan warna air hijau tenang.

Ketiga danau berwarna tersebut, masing-masing oleh masyarakat setempat diberi nama sesuai dengan sejarah terbentuknya tadi, yaitu Tiwu Ata Polo (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tukan tenung atau orang jahat yang meninggal), Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah muda mudi yang meninggal), dan Tiwu Ata Mbupu (dipercayai sebagai danau tempat berkumpulnya arwah-arwah para tetua yang sudah meninggal).
Hingga kini, penduduk sekitar gunung Kelimutu percaya bahwa mereka dapat melakukan kontak dengan arwah orang tua atau leluhur mereka dengan memanggil nama orang tua atau leluhurnya sebanyak tiga kali di depan Tiwu Ata Mbupu.

Menurut kepercayaan, setelah pemanggilan dilakukan, biasanya arwah orang tuanya atau leluhur akan datang dan memberikan petunjuk melalui mimpi. Kontak dengan orang tua/leluhur tersebut biasa dilakukan untuk mendapatkan petunjuk apabila terjadi musibah, seperti kehilangan barang atau ternak.
Demikian sekilas kisah sejarah terbentuknya danau Kelimutu yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya.

Akses Menuju Lokasi Wisata Danau Kelimutu

Bagi pengunjung yang berasal dari luar kota, dapat memakai transportasi udara dengan destinasi Bandara H. Hasan Aroeboesman (Bandara di Kabupaten Ende).

Sesampainya di Kabupaten Ende, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan mengarah ke Desa Moni, suatu desa yang berada di kaki Gunung Kelimutu dengan jarak perjalanan selama 65 Kilometer dari bandara.

Dikarenakan di Ende masih minim sarana transportasi umum untuk mengarah ke Desa Moni, lebih baik pengunjung mencarter kendaraan bermotor di Ende atau dapat menggunakan jasa travel dengan destinasi Desa Moni atau Gunung Kelimutu.

Jarak yang ditempuh pengunjung dari Kabupaten Ende selama 50 km mengarah ke ke Desa Moni dan 15 km dari Kampung Moni sampai sampai ke gerbang pintu masuk Taman Nasional Kelimutu

Harga Tiket Masuk (HTM) ke Wisata Danau Kelimutu

Tarif masuk area Taman Nasional Kelimutu untuk pengunjung dalam negeri akan dikenakan tarif sebesar 5.000 rupiah dan 150.000 rupiah guna pengunjung mancanegara.

Dan untuk ongkos tambahan parkir kendaraan, kendaraan roda dua dikenakan Rp.5.000, sementara untuk mobil dikenakan tarif Rp.10.000.

Fasilitas Disekitar Danau Kelimutu

Di sekitar tempat danau, telah tersedia sekian banyak fasilitas penunjang untuk para pengunjungnya mulai dari toilet, sejumlah gazebo, lahan parkir dan jajaran kios yang menjajakan minuman dan makanan di dekat area parkir. Fasilitas-fasilitas tersebut pun nampak terjaga dan terawat kebersihannya.

Galery Foto Gambar Danau Kelimutu

Lokasi gunung ini tepatnya berada di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende
Lokasi gunung ini tepatnya berada di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende
Penampakan danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai danTiwu Ata Polo
Penampakan danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai danTiwu Ata Polo
Untuk mencapai danau ini, wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Desa Moni
Untuk mencapai danau ini, wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Desa Moni
Untuk menuju puncak Gunung Kelimutu membutuhkan waktu 20 menit dengan berjalan kaki
Untuk menuju puncak Gunung Kelimutu membutuhkan waktu 20 menit dengan berjalan kaki
Wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Kampung Moni
Wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 45 km dari Ende atau 13 km dari Kampung Moni
Awal mulanya daerah ini ditemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda pada tahun 1915
Awal mulanya daerah ini ditemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda pada tahun 1915
Daftar klasifikasi harga tiket masuk
Daftar klasifikasi harga tiket masuk
Danau ini berada di ketinggian 1.631 mdpl
Danau ini berada di ketinggian 1.631 mdpl
Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki 3 warna danau yang berbeda-beda
Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki 3 warna danau yang berbeda-beda
Danau Kelimutu pertama kali ditemukan pada tahun 1915 oleh seorang Belanda bernama Van Such Telen
Danau Kelimutu pertama kali ditemukan pada tahun 1915 oleh seorang Belanda bernama Van Such Telen
Danau ketiga yaitu Tiwu Ata Mbupu yang berarti danau jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal
Danau ketiga yaitu Tiwu Ata Mbupu yang berarti danau jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal
Fasilitas di sekitar lokasi sangat lengkap dan terawat
Fasilitas di sekitar lokasi sangat lengkap dan terawat
Kawasan hutan di Kelimutu ketika pagi hari, diselimuti kabut
Kawasan hutan di Kelimutu ketika pagi hari, diselimuti kabut
Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992
Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992

Tinggalkan Balasan