Desa Lamalera, di pulau Lembata (Flores), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal di seluruh pelosok dunia sebagai lokasi tinggal perburuan ikan paus secara tradisional. Dokumen dari orang Portugis yang berasal dari tahun 1643 sudah melafalkan bahwa perburuan heroik ini sudah terlihat ketika itu.

Di Lamalera, warga desa berburu fauna laut besar, seperti paus, pari manta dan kadang lumba lumba/dolfin untuk persediaan makanan dan sumber pendapatan untuk semua desa, mereka melakukannya dengan perahu layar yang simpel dan mengikuti keyakinan kuno, tabu dan tradisi.

Dalam sekali menangkap, dibutuhkan 15 orang lelaki untuk mengangkut badan ikan paus yang cukup besar. Jika tidak berhat-hati, pemburuan ikan paus dapat memakan nyawa penduduk.
Dalam sekali menangkap, dibutuhkan 15 orang lelaki untuk mengangkut badan ikan paus yang cukup besar. Jika tidak berhat-hati, pemburuan ikan paus dapat memakan nyawa penduduk.

Karena dalil inilah, perburuan paus oleh masyarakat Lamalera hingga hari ini dilepaskan dari larangan penangkapan ikan paus secara internasional, mengingat teknik tradisional ini masih dilaksanakan dan kenyataan bahwa mengejar makhluk laut raksasa ini menolong penduduk desa menyokong eksistensi ekonomi mereka.

Setiap tahun, paus bermigrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik sekitar bulan Mei hingga Oktober, saat fauna laut raksasa ini melalui laut Savu tepat di tepi pintu pulau Lembata. Bagi Lembata, perburuan ikan paus dibuka pada tanggal 1 Mei sampai mencapai puncaknya pada bulan Juli.

Baca juga: 10 Destinasi Wisata Favorit di Lembata yang Instagramable

Ketika sebuah penelusuran ikan paus diputuskan, banyak kapal yang disandarkan di pantai dimasukan ke laut, disambut oleh semua desa, dan regu kapal bakal berlayar secara bersama-sama untuk menangkap buruan mereka.

Meskipun mereka berburu ikan paus, namun ada satu jenis yang tak pernah mereka buru, yaitu ikan paus biru. Menurut penduduk Lamalera, ikan paus biru adalah “Ibu” pulau mereka. Ikan paus biru merupakan pelindung tetap pulau tersebut.
Meskipun mereka berburu ikan paus, namun ada satu jenis yang tak pernah mereka buru, yaitu ikan paus biru. Menurut penduduk Lamalera, ikan paus biru adalah “Ibu” pulau mereka. Ikan paus biru merupakan pelindung tetap pulau tersebut.

Sebelum mengerjakan perburuan, masing-masing orang berkumpul guna menghadiri suatu misa eksklusif yang dipimpin oleh pastor Katolik setempat untuk berdoa supaya kegiatan tersebut dapat sukses dan aman. Sebab, mayoritas penduduknya beragama Katolik.

Perburuan ikan paus masih dilaksanakan di atas perahu kayu tradisional yang tipis, yang dinamakan peledang. Kapanl ini diawaki antara 7 – 14 orang yang terdiri atas juru kemudi , pendayung dan pelempar tombak (harpun), di mana setiap diberi tugas istimewanya. Yang sangat lincah dari kesebelasan berdiri di atas haluan kapal siap melempar tombak yang bertanduk.

Ketika seekor ikan paus atau manta terlihat, pelempar tombak membuang harpun ke fauna yang melompat ke atas. Bila targetnya ialah paus sperma yang paling besar, anggota kesebelasan lainnya bakal melempar lebih tidak sedikit harpun( tombak) pada mangsanya.

Desa Pemburu Paus ini memiliki kebudayaan yang unik dan tentunya akan sangat berkesan saat kita berkunjung dan menginap di sana selama beberapa hari untuk menyaksikan pemburuan ikan paus tersebut.
Desa Pemburu Paus ini memiliki kebudayaan yang unik dan tentunya akan sangat berkesan saat kita berkunjung dan menginap di sana selama beberapa hari untuk menyaksikan pemburuan ikan paus tersebut.

Dan saat akhirnya mangsa dilumpuhkan, bersama-sama seluruh anggota kesebelasan mengusung tubuh ikan yang berat ini ke atas kapal. Beberapa desa pun berburu paus seperti di desa Lamakera di pulau Solor, tetapi desa Lamalera yang sangat terkenal. Selama satu musim, warga pulau dapat menangkap antara 15 hingga 20 paus.

Ada hal-hal yang tabu ketika berburu ikan paus. Misalnya, dilarang mengejar paus hamil, paus muda, dan paus yang sedang kawin. Kemampuan guna mengenali tabu eksklusif ini dapat dipelajari melewati periode empiris yang ekstensif. Sayangnya, sejumlah penatua cemas bahwa tradisi itu lenyap sebab anak-anak ingin memisahkan tradisi dari modernitas, sampai-sampai generasi masa mendatang tidak lagi mematuhi nilai tradisional yang begitu berharga.

Lakukan perjalanan anda ke Desa Lamalera disekitar bulan Mei hingga Juli, dimana para ikan paus sedang bermigrasi dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Lakukan perjalanan anda ke Desa Lamalera disekitar bulan Mei hingga Juli, dimana para ikan paus sedang bermigrasi dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Penginapan di Sekitar Lamalera

Selama Desa Lamera terdapat sejumlah hotel yang lumayan bagus, di antaranya:

  • Hotel Rejeki
  • Hotel Olympic
  • Lewoleba Hotel
Diawali seremonial pada 29 April-1 Mei sebagai pembuka prosesi. Mereka mulai ritual adat di batu paus, mereka meyakini akan dapat kemurahan (rezeki)
Diawali seremonial pada 29 April-1 Mei sebagai pembuka prosesi. Mereka mulai ritual adat di batu paus, mereka meyakini akan dapat kemurahan (rezeki)


Akses ke Lokasi Desa Lamalera Lembata

Pulau Lembata terletak 190 kilometer utara Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Loweleba ialah kota terbesar di Pulau Lembata, dan berada di pesisir selatan pulau ini. Untuk sampai ke Lowelaba, Anda bisa terbang dari Bali atau Lombok ke Maumere di bandara Frans Seda.

Dari Maumere, dilanjutkan ke Larantuka dengan bus. Dari Larantuka, satu-satunya teknik untuk pergi ke Lamalera ialah dengan feri menyeberang ke Lewoleba yang berlayar setiap hari, atau langsung ke Lamalera dari Larantuka dengan feri sekali dalam seminggu.

Pemburuan dilakukan oleh masyarakat pesisir di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, saat musim migrasi paus, dan telah menjadi ritus tahunan. Orang lokal memercayainya sebagai sebuah ritual.
Pemburuan dilakukan oleh masyarakat pesisir di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, saat musim migrasi paus, dan telah menjadi ritus tahunan. Orang lokal memercayainya sebagai sebuah ritual.

Keunikan Perburuan Paus di Desa Lamalera

Jumlah paus yang diburu

Sejumlah pihak, seperti World Wide Fund of Nature (WWF) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan, pernah menyoriti aktivitas ini lantaran dianggap berpotensi menyebabkan kepunahan. Namun Kadisbudpar Lembata Apolo mengatakan tak semua paus menjadi perburuan.

Masyarakat hanya akan menangkap paus sperma dengan jumlah terbatas. Merekai hanya menangkap 1-2 paus setiap kali pemburuan.

Jenis yang diburu

Selain membatasi jumlah pemburuan paus, masyarakat juga menangkap jenis tertentu, yakni paus sperma. Mereka tak memburu paus biru atau blue whale yang ikut bermigrasi bersama paus sperma. Sebab, jumlah paus biru terbatas.

Masyarakat juga tak menangkap paus yang sedang hamil. Mereka sudah mengetahui paus mana yang sebaiknya diburu dan tidak.

Pemburuan paus akan dimulai dengan upacara khusus yang melibatkan batu paus. Batu paus ini terdapat di pesisir Lembata. Pada ritual tersebut, masyarakat akan meminta restu pada leluhur.
Pemburuan paus akan dimulai dengan upacara khusus yang melibatkan batu paus. Batu paus ini terdapat di pesisir Lembata. Pada ritual tersebut, masyarakat akan meminta restu pada leluhur.

Masa pemburuan

Pemburuan paus dilakukan pada masa-masa tertentu. Biasanya dimulai pada Mei dan diakhiri pada Oktober. Masa ini diyakini sebagai periode paus bermigrasi dari Kutub Utara menuju Kutub Selatan, melewati laut Lembata.

Masyarakat pun akan memburu paus saat itu. Namun, hanya pada saat bulan “tenggelam”, bukan sa at purnama. Pada keadaan bulan gelap, keadaan air laut lebih tenang dan minim gelombang. Masyarakat bisa menandai kalau ada paus lewat. Mereka akan peka dengan semburan paus.

Dimulai dengan ritual

Pemburuan paus akan dimulai dengan upacara khusus yang melibatkan batu paus. Batu paus ini terdapat di pesisir Lembata. Pada ritual tersebut, masyarakat akan meminta restu pada leluhur.

Masyarakat yang mayoritas beragama Katolik juga akan menggelar misa atau ibadah untuk mengawali pemburuan. Misa dilakukan guna meminta keselamatan pada Sang Pencipta. Upacara adat itu dilakukan pada 29 April sampai 1 Mei.

Cara berburu

Warga menggunakan perahu tradisional untuk berburu. Mereka menggunakan peralatan sangat tradisional, seperti tombak kayu dan tali. Penduduk setempat juga menghindari penggunaan jala. Cara berburu ini diadaptasi secara turun-temurun dari para pendulu untuk menghindari dampak kerusakan biota laut.

Wisatawan harus menunggu

Pemburuan paus tidak dilakukan setiap hari. Untuk menyaksikannya, wisatawan harus sabar menunggu. Sebab, tak ada patokan khusus, semisal tanggal pemburuan. Namun wisatawan bisa menandainya dengan periode bulan gelap. Selagi menunggu, pelancong bisa menikmati wisata Lembata lainnya, misalnya wisata pantai atau gunung yang tak jauh dari pusat kota.

Alasan memburu

Masyarakat Lembata memburu paus karena alasan ekonomi. Pada dasarnya di Lembata, masyarakat tak punya kekayaan lain selain laut. Mereka tidak bisa bertahan hidup dengan bertani. Sebab, keadaan tanah yang kurang subur tak memungkinkan penduduk bercocok tanam.

Salah satu kekayaannya adalah bahari. Mereka menyebut laut sebagai pemberian. Adapun paus, yang termasuk di dalamnya, juga dianggap sebagai rezeki. Meski disebut pemberian, mereka tak semerta-merta mengeksploitasinya. Penduduk lokal tetap mempertimbangkan aspek keseimbangan ekosistem.

Dibagi rata
Hasil buruan paus akan dipotong-potong dan dibagi rata untuk warga setempat. Khususnya untuk janda dan yatim-piatu. “Juga untuk mereka yang menikam atau yang berburu,”. Daging paus akan dibarterkan ke pasar-pasar tradisional.

Peta Lokasi Desa Lamalera

Tinggalkan Balasan