Pulau Sabu Nusa Tenggara Timur – Pulau Sabu, Raijua atau bisa juga disebut Sawu atau Savu ini biasa menyebutnya dengan sebutan Rai Hawu yang berarti tanah dari Hawu, sedangkan orang Sabu sendiri menyebut dirinya dengan sebutan Do Hawu namun resminya kini bernama Sabu.

Pulau Sabu dan Pulau Raijua adalah dua pulau yang menyimpan keindahan alam yang sangat luar biasa. Pulau Sabu dan Pulau Raijua adalah salah satu dari gugusan pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Disini sangat banyak peninggalan sejarah dan budaya yang sangatlah eksotis. Juga harus di jelajahi. Pasir yang bersih, pantai yang indah, ombak yang menantang, budaya yang masih amat terjaga, menjadi daya tarik utamanya.

Terletak di garis batas selatan wilayah administratif Indonesia

Pulau Sabu masuk dalam wilayah Kabupaten Sabu Raijua. Lokasinya berada di garis batas selatan wilayah administratif Indonesia, di antara Pulau Sumba dan Rote. Karena cukup dekat dengan benua Australia, iklim Pulau Sabu pun berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya.

Baca juga: Daftar Destinasi Wisata di Pulau Sabu Yang Layak Dikunjungi

Musim kemarau di Pulau Sabu sangat panjang, hampir setahun penuh. Musim penghujan hanya datang 15 – 70 hari per tahun. Nggak heran sebagian besar wilayahnya tandus dan gersang. Banyak perbukitan kapur yang nampak kering kerontang.

Menyimpan banyak legenda dan mitos kuno di tengah masyarakat

Terpencil di selatan Indonesia, Pulau Sabu minim fasilitas dan relatif tenang. Ditambah lagi legenda dan mitos yang masih subur mengakar di tengah masyarakat. Mereka masih memercayai keberadaan dewa dan ajaran kepercayaan kuno.

Memiliki kain tenun khas dengan motif unik

Salah satu bentuk kepercayaan kuno masyarakat Sabu diwujudkan dalam kain tenun bermotif unik. Mesin tenunnya bernama Langa, terbuat dari kayu yang dikerjakan dengan tangan.

Warna kain tenun khas Sabu memadukan corak Astronesia berwarna biru, merah dan kuning. Biru didapat dari ramuan nila, merah dari ekstrak mengkudu dan kunyit untuk warna kuning.

Motif unik tenun Sabu menggambarkan garis-garis geometris dan flora fauna. Masyarakat setempat memercayai beberapa motif kain mampu melindungi pemakainya dari marabahaya.

Mengucap salam dengan menempelkan hidung

Mengucap salam dengan menempelkan hidung di Pulau Sabu
Mengucap salam dengan menempelkan hidung di Pulau Sabu

Kalau orang-orang pada umumnya mengucap salam dengan berjabat tangan, lain cerita di Sabu. Mereka menyapa orang lain dengan saling menempelkan hidung. Bagi yang baru pertama kali berkunjung ke sana mungkin merasa geli. Tapi inilah bentuk penghormatan mereka pada tamu yang baru datang.

Mayoritas penduduknya menganut agama Jingitu

Eksotisme adat dan budaya Pulau Sabu nggak berhenti sampai di situ. Agama dan kepercayaan yang mereka anut bernama Jingitu. Di dalam kepercayaan ini banyak upacara adat, dewa dan roh leluhur yang mereka percaya.

Mayoritas penduduknya menganut agama Jingitu
Mayoritas penduduknya menganut agama Jingitu

Di antaranya ada Uli Rae sebagai penjaga kampung, Aji Rae sebagai penangkis bahaya dan Tiba Rae sang pemberi pertolongan. Ajaran Jingitu juga memengaruhi penanggalan masyarakat setempat, seperti penentuan masa tanam dan panen.

Punya sederet spot wisata apik yang belum banyak terekspos

Pulau ini pernah dijadikan tempat singgah para penjelajah dari Bangsa Eropa, Portugis dan belanda misalnya yang datang di abad ke-17. Hal ini dibuktikan lewat beberapa benteng peninggalan yang bercorak Eropa.

Festival Jelajah Pesona Kelabba Madja Sabu Raijua (9-12 September 2019)
Festival Jelajah Pesona Kelabba Madja Sabu Raijua (9-12 September 2019)

Benteng Hurati di Sabu Timur dan Benteng Inggris di Sabu Liae kini dijadikan destinasi wisata. Selain itu ada juga situs batuan megalitik di Kampung Namata dan beberapa pantai cantik di sekitarnya.

Taji Ayam 

taji ayam oleh masyarakat sabu ntt
taji ayam oleh masyarakat sabu ntt

Nah, ini merupakan bagian dari kalender event Adat Hole yang sangat terkenal dan paling dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat Sabu Raijua. Ramainya peminat Taji Ayam ini hampir sama dengan perayaan piala dunia. Bagi warga Sabu, Taji Ayam ini merupakan simbol juga kegiatan adat warga Sabu. Didalamnya terselip sebuah filosofi, yaitu daerah yang ditumpahkan pada ajang ini adalah berlambang, tidak ada lagi darah manusia yang tumpah di tanah Sabu. Artinya jangan ada konflik apapun.

  • Pulau ini adalah pulau terluar di bagian selatan Indonesia yang terletak di antara Pulau Sumba dan Pulau Rote.
  • Penduduk di pulau ini secara turun-temurun punya kebiasaan minum air gula sebagai pengganti makanan.
  • Penduduknya juga mewarisi tradisi kerajinan tenun dari bahan kapas asli yang biasanya ditanam di kebun belakang rumah.
  • Warga biasanya bepergian dengan kendaraan pribadi atau menumpang kendaraan yang lewat.
  • Di Pulau Sabu harga bensin Premium lebih mahal dari Pertamax.

Peta Lokasi Pulau Sabu

Pulau Sabu

Tinggalkan Balasan