Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

6 Kisah Nyata: Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

6 Kisah Nyata: Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup – Pernah tidak kalian menemukan kisah yang menarik dalam kehidupan kita sehari-hari, yang mungkin kisah itu susah untuk kita lupakan.

Mungkin cerita yang bersifat sedih, lucu, mengharukan atau apalah, yang penting berkesan dalam hidup kita. Jika kalian mempunyai kisah seperti itu, jadikanlah kisah tersebut sebagai sebuah pelajaran atau hikmah dalam hidup kalian.

Oleh karena itu, kami akan sedikit berbagi mengenai beberapa kisah nyata yang benar-benar terjadi di dunia kita ini, tanpa kita sadari. Dalam artikel ini kami akan sedikit berbagi tentang kisah nyata cinta, romantis, alam kubur, islami dan yang lainnya.

Tujuan Menulis Kisah Nyata

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Artikel dengan tema kisah nyata ini tidak memiliki maksud apa-apa. Jujur tidak ingin menjelek-jelekkan kisah seseorang (bila kisahnya jelek), atau bahkan menghina seseorang, tidak sama sekali. Hanya ingin berbagi cerita, jika ada baiknya semoga hal itu menjadi motivasi.

Dan bila ada lucunya mungkin bisa digunakan sebagai hiburan semata. Akan tetapi artikel ini akan banyak mengupas mengenai kisah nyata yang memiliki makna. Jadi dalam kisah tersebut pasti akan ada pesan moral yang dapat kalian ambil sebagai nasihat.

Tips Menulis Novel Berdasarkan Kisah Nyata

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Goal

Perlu kita pahami, apa sih tujuan kita menulis? Hanya sekedar menulis atau ingin menyampaikan pesan tertentu? Tentunya kita menulis ingin memberikan pesan pada pembaca tentang kisah yang dihadirkan dalam novel. For the first, langkah awal setelah menetapkan tujuan menulis, maka kita harus menentukan subjek atau tentang apa kah yang akan kita tulis. Menulis adalah mengkombinasikan imajinasi, adapun substansi untuk menulis novel bisa diambil dari kisah hidup orang lain, keluarga, kerabat atau tokoh inspirasi kita. Sehingga dengannya kita akan menulis serta membagikan pada khalayak agar bisa menyebar kebaikan dan semangat hidup tokoh.

Fiksi based on story

Fiksi, dalam benak kita telah mensetting rentetan sinonim dari fiksi yang berarti khayalan, imajinasi, dan kebebasan. Dalam menulis fiksi diperlukan umpan sebagai dasar dalam mengembangkan imajinasi yang menjadi pemaparan kisah. Adapun umpan yang bisa digunakan adalah umpan waktu, tokoh, tempat, maupun klimaks dari alur cerita. Sebagai contoh kita menemukan umpan tokoh yang menarik, maka kita dapat menulis permulaan dengan menjabarkan tokoh serta penokohan dengan semenarik mungkin, meski dalam realita adalah biasa saja namun dalam penulisan fiksi disajikan dengan menambah atau mengurangi gambaran tokoh tanpa mengurangi realitasnya karena ini demi kepentingan penulisan fiksi.

Bumbu diksi

Pada penulisan fiksi, diksi dalam hal ini adalah sebagai bumbu dalam cerita supaya lebih menarik. Kita bisa bayangkan buku buku seperti buku sejarah ataupun buku ilmiah tentu menggunakan bahasa yang baku. Contoh alam buku sejarah mebahas mengenai toko pahlawan, diceritakan dengan mengguanakan bahasa yang baku seperti “Soekarno”, maka dalam buku akan ditulis cukup dengan menyebutkan nama tokoh, lahir tahun sekian, bertempat di, dan lain sebagainya. Namun apabila di sajikan dalam fiksi dengan memakai bumbu diksi yang indah maka tokoh akan dijabarkan sedemikian rupa dari mulai keadaan tokoh, deskripsi fisik serta batin tokoh, suasana pada saat itu, lingkungan dan peristiwa yang terjadi.

Kerangka tulisan

Dalam membuat kerangka tulisan bisa dimulai dari konflik dengan endingnya dulu. Konflik dibuat semenarik mungkin , bagaimana klimaksnya, apakah sudah pas apabila di deskripsikan secara singkat? Masalah tentang siapa yang akan menjadi tokoh itu bukan hal utama, tokoh bisa divariasikan apabila alur sudah dapat di dapahmi. Dalam membuat konflik, bisa dimulai dari klimaks, kemudian menghadirkan konflik-konflik kecil setelah klimaks atau sebelumnya.

Pesan bermakna

Point yang bemakna dalam novel apabila novel tersebut dapat memberikan makan di benak para pembaca. Untuk menghadirkan pesan bisa di sampaikan lewat penokohan ataupun konflik yang terjadi. Pesan tersirat yang dihadirkan akan lebih melekat dalam ingatan apalagi dikemas dengan semenarik mungkin, bahan dapat menyetuh hati para pembaca.

Kisah Nyata Cinta

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Hati Ali mulai menginginkan menikah dengan Fatimah saat Fatimah membasuh luka Ayahnya (Nabi Muhammad) yang tengah terluka usai mengikuit peperangan. Dari peristiwa itulah keinginan Sahabat Ali untuk menikah dengan putri Nabi semakin besar.

Karena memiliki keinginan yang besar untuk menikah dengan putri Nabi, Ali dengan tekun mengumpulkan uang yang akan digunakan untuk membeli mahar, untuk menikah dengan Fatimah. Ia tidak langsung bisa menikah dengan putri Nabi lantaran, Sahabat Ali bukan termasuk Sahabat yang memiliki kekayaan yang melimpah.

Belum cukup Ali mengumpulkan uang untuk membeli mahar untuk menikah, Sahabat Nabi yang Abu Bakar datang kepada Rasul untuk melamar Fatimah. Hati Sahabat Ali menjadi galau (kalo bahasa kita sekarang), akan tetapi Sahabat Ali sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa bila dibandingkan dengan Sahabat Abu Bakar.

Akan tetapi setelah mendengar berita bahwa Abu Bakar tidak jadi menikah dengan Fatimah, hati Ali kembali seperti semula. Namun keceriaan Sahabat Ali tidak berlangsung lama, karena salah seorang Sahabat deka Rasulullah, Umar Bin Khatab juga mengikuti jejak Abu Bakar untuk melamar Fatimah.

Lagi-lagi Sahabat Ali hanya mampu pasrah dan berdoa kepada Allah, jika ia jodohku pasti ia akan bersamaku. Karena Ali sadar bahwa dirinya tidak mungkin bersaing dengan Umar yang terkenal gagah perkasa dan memiliki keimanan yang begitu besar.

Namun takdir Allah masih berpihak kepada Ali, karena Abu Bakar dan Umar sama-sama tidak diterima. Hati Ali kembali ceria ketika berita itu sampai di kedua telinganya. Akan tetapi Sahabat Ali masih ragu untuk meminang Fatimah, karena ia hanya pemuda miskin.

Bahkan beliau hanya memiliki sebuah pedang, baju besi dan unta yang biasa digunakan untuk mengambil air.

Ali mendatangi Abu Bakar dan berkata : “Wahai Sahabat Rasul, sesungguhnya engkau telah membuat hatiku berguncang, engkau mengingatkan diriku kepada hal yang telah terlupa dalam ingatanku. Demi Allah diriku memang ingin untuk meminang Fatimah, akan tetapi yang menjadi satu penghalang untuk meminangnya karena aku ini pemuda yang miskin dan tidak memiliki apa-apa”

Dengan terharu Abu Bakar menanggapi Ali : ” Wahai Ali, janganlah engkau berkata begitu, bagi Allah dan Rasulnya, Dunia ini tidak lebih berharga dari pada debu-debu yang bertaburan”

Mendengar jawaban dari Abu Bakar, Kepercayaan Ali semakin kuat untuk segera meminang putri Nabi. Dengan ragu-ragu Ali datang ke rumah Rasulullah untuk melamar Fatimah.

Dalam hadist dari ummu salamah diceritakan tentang bagaimana proses lamaran Ali untuk meminang Fatimah

“Saat itu aku melihat wajah Rasul begitu berseri-seri, sambil tersenyum Rasulullah bertanya kepada Ali. Wahai Ali apakah engkau mempunyai sesuatu untuk dijadikan sebuah mahar untuk menikah”

Ali memjawab: “Demi Allah, engkau mengetahui sendiri bagaimana keadaanku, tidak ada sesuatupun yang tidak engkau ketahui ya Rasulullah. Tidak tidak memiliki harta kecuali sebuah pedang, satu set baju besi dan seekor unta”

Rasulullah menanggapi pertakaan Ali : ” Tentang pedangmu, engkau masih membutuhkannya untuk berjuang (berperang) di jalan Allah. Tentang unta yang engkau miliki kamu masih memerlukannya untuk mengambil air dan untuk kendaraan saat bepergian jauh. Oleh sebab itu aku hendak menikahkanmu hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi. Wahai Ali engkau harus bergembira karena Allah telah terlebih dahulu menikahkanmu dengan Fatimah di Langit, sebelum aku menikahkanmu di bumi ini”

Setelah itu menikahlah kedua manusia mulia itu dihadapan para sahabatnya, walupun hanya dipinang dengan sebuah baju besi pernikahan termasuk pernikahan yang berhasil. Karena dari pernikahan ini, melahirkan seorang manusia mulia yaitu Hasan dan Husai. – Kisah Nyata Cinta, Kisah Nyata Cinta

Kisah Nyata Sedih

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Ayah Penggemar Barang Rongsok

Pria itu selalu saja begitu, kerjaannya begadang sampai larut dan cuma memperbaiki barang rongsok yang bukan miliknya. Mendengar suaranya saja sudah bikin tidak tenang banyak orang, entah bagaimana, yang jelas suaranya cukup nyaring di dengar dari dalam rumah.

“pak sudah malam ini, cepatan masuk rumah, gak enak sama tetangga.” kata ibuku.

Rumahku berada di pinggir jalan gang tidak terlalu lebar. Dalam rumah kami, tidak ada tempat buat menyimpan semua barang milik ayahku, tepatnya barang milik temannya.

Ibuku sering marah kepada ayah karena perbuatannya yang sering sekali tidak tidur. Tak jarang juga pada pagi hari terdengar celoteh yang kurang enak untuk didengar anak-anaknya sepertiku.

Tapi apa boleh buat, begitulah kebiasaan ayahku.

Dia memperbaiki becak motor milik teman-temannya. Bukan hanya satu-dua, melainkan ada 3 sampai lima becak yang berserakan di depan rumah kami.

Dan kenapa aku bilang itu adalah barang rongsokan, karena beberapa hari lagi pasti becak itu akan datang kerumah kami memohon untuk diperbaiki. Aku tidak begitu mengerti dan memperhatikannya, cuman setiap hari aku lihat becak-becak itu, setidaknya aku tau mana yang sudah pernah datang dan mana yang belum.

Sering dari becak yang diperbaiki ayahku adalah becak yang sama, dan itu-itu saja. Aku pun hafal, bahkan siapa yang datang juga aku tau dia pemilik becak rongsok yang mana.

Kebiasaannya buruk yang sering dilakukan itu membuat tubuhnya lemah. Dia sering sekali sakit-sakitan. Batuknya yang tak henti dalam satu dua minggu, nafas yang sedikit ngos-ngosan, asma sih enggak, mungkin saking kecapeannya.

Untuk menghidupi anaknya, ibuku membantu perekonomian keluarga dengan jualan gorenang setiap harinya. Ayahku sendiri hanya tukang becak motor dan petani kecil. Jadi setelah dia begadang atau hanya tidur dalam waktu 1-2 jam, lalu dia pergi ke sawah dan mengurus ladangnya.Tapi bila tidak musim tanam atau panen, maka ayahku pergi ke pankalan becak untuk mencari pelanggan.

Sayangnya tak ada pelanggan yang mau menaiki becak motor milik ayahku. Memang aku akui dan juga ibu pun begitu, bahwa becak motor milik ayahku tak layak ditumpangi oleh orang. Mungkin jelek dan rusaknya karena dibuat untuk membawa kelapa kering milik bosnya untuk diantarkan ke para pelanggan pemilik kelapa tersebut.

Iya, ayahku pengantar kelapa tua. Itu pun cuma jika setiap ada kelapa yang datang, biasa 3 hari sekali. Dari situlah ayahku benar-benar mendapat upah untuk menghidupi keluarga.

Lantas bagaimana dengan barang rongsok yang selalu dikerjakannya setiap malam, yang susah payah dia bela-bela tidak tidur hanya untuk memperbaiki barang-barang tersebut?

Kalau kalian tau, semua yang dia kerjakan untuk becak motor rongsok itu “TIDAK di BAYAR“.

Ketika aku mendengar kabar tersebut dari ibuku, aku juga ikut jengkel, marah, kesal apa sajalah. Kenapa coba dia rela bela-belain memperbaiki becak rongsok milik temannya yang pada ujung-ujungnya tidak mendapat apa-apa?

Kenapa juga sih dia merelakan kesehatanya hanya untuk orang yang tidak memikirkannya. Pernah aku menjumpai dia benar-benar sakit. Tubuhnya sangat lemas, batuknya sudah gak karuan nada dan iramanya, menyakitkan dada orang tersebut. Dia hanya bisa berbaring lemas untuk jangka waktu beberapa hari.

Sejenak aku berfikir, mungki dia lebih baik diberi sakit dari Sang Kuasa, dengan begitu dia bisa istirahat. Mungkin juga dari sakit itu dia sadar, kalau yang dia lakukan itu tidak baik untuk kesehatannya. Toh juga apa yang ia lakukan tidak mendapat apa-apa.

Tapi pikiranku salah besar, apa yang telah terjadi kepadanya tidak membuatnya berubah sama sekali. Saat dia sudah sedikit bugar, cuma sedikit saja, dia melakukan aktifitas itu lagi dan lagi.

Sampai kapan dia akan melakukan hal itu? Aku kesal dengan berbuatanya, aku bukan benci, cuma kalau melihat salah seorang yang kusayang seperti itu, lantas aku harus bagaimana? aku juga bingung, ibu saja tidak bisa menasehatinya, apa lagi aku?

Di suatu pagi yang seisi rumah ribut oleh ocehan ayah-ibuku, aku mendengar ucapan mereka yang lantang dengan suara saling meninggi,

“pak bagaimana nasib anak kita, kalau bapak begini terus, penghasilan pas-pasan dan tidak cari kerja lain. Masih saja mengurus becak orang yang tidak mendapakan upah. Sedangkan anak kita sudah masuk kelas 3 SMA, habis ini butuh dana banyak untuk ujianya” kata ibuku berusa halus.

“Ya udah lah, kalau sudah tidak bisa membiayai sekolah, ya gak usah sekolah” katanya keras.

Raut muka ibuku menjadi mengkerut.

“Jangan begitulah pak, bapak yang harus bisa cari kerja lain. Tinggalin itu becak-becak gak berguna. Paling juga di kasih 10 ribu, itu aja kalau ada yang ngasih.” kata ibuku sedikit meninggi.

“Lah mau kerja apa, reski sudah ada yang ngatur, iya itu dapatnya.”

“Tapi tidak begitu juga pak, bapak menyiksa diri kalau setiapa malam begitu.”

“Udah lah udah, kalau mau sekolah suruh anakmu cari uang sendiri”

Mendengar kata-kata itu hatiku langsung sakit, sungguh sangat menusuk, apa jadinya kalau aku tidak sekolah? Kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Jujur, aku memang tidak akrab dengan ayahku. Ngobrol? itu tidak ada dalam kamus keluargaku, lebih tepatnya aku sama ayahku.

Ketemu di jalan saja kita tidak pernah saling sapa, perhatiannya kepadaku hampir tidak pernah ada. Sekali doang ketika ibu pergi kepasar dan saat aku sakit gigi, dia pernah berkata :

“Sakit gigi ta, di kasih pil sana beli di toko sebelah”

Itu kata-kata yang tak pernah terlupakan dalam hidupku. Perhatiannya mungkin terlalu mahal untuk anak-anaknya. Aku tidak tau kenapa. Mungkin sepele, tapi buat aku itu berharga sekali.

Sampai suatu hari, dia pergi ke ladang, dan aku sekolah.

Sore hari dia baru pulang, begitu juga denganku. Tapi aku lebih dulu satu jam dari pada dia. Ayah-ibu datang jam lima sore. Memang jika ibuku usai menjual gorengan, jika badannya masih bisa bergerak, dia akan ikut ayahku ke ladang dan membantunya.

Sore itu tidak ada berita buruk sedikitpun. Ayahku juga sehat pada hari itu, begitu pula ibuku.

Pada malam harinya, aku yang pulang dari rumah temanku yang agak larut, tepatnya jam 11 malam, aku mendapati ayahku sudah tidur. Tumben banget kataku.

Ayahku belum sholat isa’. Lalu dari luar kamar aku dengar ibuku yang baru selesai dari pekerjaannya, membangunkan ayah agar dia laksanakan kewajibannya.

Aku juga saat itu masih bangun dan menonton tv, mencari-cari kantuk dengan  tiduran di kasur depan ruang keluarga.

Usai sholat, ayahku makan. Entah kenapa dia malah makan, buka langsung beranjak tidur untuk meneruskan istirahatnya. Setelah itu aku tidak tau kabarnya, aku sudah terlelap.

Sekitar jam satu malam, aku merasa tidak enak dengan tidurku. Aku setengah terbangun. Lalu aku mendengar ibuku memanggil-manggil ayahku dalam kamarnya.

Cukup lama aku mendengarnya, mungkin sekitar 15 menitan. Dan saat itu juga ibuku menghampiriku lalu membangunkanku dan bilang :

“san.. Bapakmu gak ono ..” (ayahmu gak ada)

Aku yang sudah sadar sejak tadi langsung bangun. Melihat raut muka ibuku yang kebingungan dan berusaha mencerna.

Aku langsung mendatangi ayahku yang terbaring di kamar.

Sekilas, aku juga tidak tau harus berbuat apa. Aku tidak pernah melihat kematian, aku takut. Melihat wajah ayahku dengan mata terbuka dan mulut menganga. Aku peganng kakinya, dingin, dingin sekali. Aku taruh tanganku di dadanya, mencoba merasakan denyutan jantungnya. Tapi tak ada detakan sedikitpun, ayahku telah meninggal.

Dalam benakku, aku kebingungan, apa yang harus aku lakukan, dia sudah tidak ada. Apa aku harus senang? mungkin dengan begitu sudah tidak ada omelan lagi di pagi hari jika dia tidak ada. Aku harus bangga, dengan begitu tidak ada lagi tetangga yang akan terganngu di setiap malam. Toh juga ada tidak adanya dia, aku tak pernah bicara.

Tapi dia ayahku, ayahku satu-satunya.

Saat itu juga aku meneteskan air mata. Ibuku juga mulai menggeru-geru, kakak ipar perempuanku juga terbangun dan menangis dengan sangatnya, saat mengetahui ayah tidak ada.

Aku tidak punya hp, aku tidak bisa menghubungi keluarga yang lain untuk memberitahukan kejadian ini. Ada kakakku yang tinggal beda rumah di tengah desa, butuh waktu untuk pergi kesana.

Aku pun pergi ke rumah kakak perempuanku, dan mengabarkan kematian ayahku. Lalu kakakku juga mengabarkan ke seluruh sodara yang ada di luar kota.

Beginikah rasanya kehilangan seorang ayah?

Sakit, tapi dalam hidupnya juga tidak membuatku senang sama sekali. Rasa ini bercampur aduk.

Ibuku yang paling terpukul dengan kejadian ini. Sesosok ibu yang sangat tangguh dan penyabar pun tak kuasa bila dihadapkan dengan kematian.

3 hari 3 malam ibuku terus saja menangis. Dia masih tidak terima, tidak ada sakit apa-apa yang menjangkitnya. Pagi juga masih bekerja di kebun, malam juga masih makan. Secepat itukah kematian menghampiri?

Hari demi hari berlalu. Kami mengenang semua jasa yang pernah dilakukan oleh ayakku dulu ketika masih hidup. Semua keluarga juga berkumpul di rumah ibu, dari kakak yang pergi merantau ke Malaisya dan Surabaya.

Ibuku mencertikan semua dibalik apa yang ayahku lakukan, dia berkata :

“Ayahmu sungguh mulia, dia rela membenahi becak-becak yang rusak miliki temannya itu bukan suatu hal yang percuma. Dia punya prinsip yang baik. Pernah bilang sebelum kematiannya, ibu tanya kenapa terus-terusan melakukan pekerjaan yang tidak di bayar itu. Dia berkata : ‘kalau becak-becak itu tidak segera diperbaiki, maka mereka tidak bisa mencari uang. Sedangkan mereka butuh uang untuk makan. Dan mereka hanya bekerja sebagai tukang becak’”

Dari situ aku baru mengerti, sungguh tulus perbuatan yang dia lakukan, Dia tau keluarga kami dari kolongan yang tidak punya, tapi dia melihat temannya lebih membutuhkan sehingga rela mengorbakan dirinya sendiri untuk orang lain.

Dia juga tau kalau pemilik becak-becak itu tidak akan sanggup membayar uang sehingga tidak diperbaiki di bengkel, dari sana juga ayahku tak pernah memberikan tarif bagi mereka.

Pernah sekali,-mungkin saking gak enaknya mereka yang terus-terusan datang dan tak pernah memberi upah, salah satu dari mereka memberikan upah kepada ayahku sebesar 10 ribu perak.

Bayangin, sebandingkah 10 ribu dengan kerja lembur begadang?

Aku kaget bercampur kagum, semua yang diceritakan ibuku itu nyata. Dibalik sosok diamnya, ternyata dia sebetulnya begitu baik. Kematiannya juga tidak dipersulit, dalam jasatnya juga terahir aku melihat ada keringat dingin yang membasahi wajahnya.

Aku dengar-dengar dari pengajian bahwa salah satu tanda-tanda kematian husnul khotimah adalah kematian yang tiba-tiba, keringat keluar dari tubuhnya, dan lain sebainya. Kuharap ayahku dapat dari salah satunya.

Dari peziarah juga cukup banyak, sampai-sampai temanku bertanya “apakah ayahmu seorang tokoh dia desa?” Tentu aku jawab tidak. Ayahku orang yang biasa saja. Tidak terkenal dan jarang dikenal oleh orang banyak.

Satu yang dibisikan ibu ketelingaku, sebuah keikhlasan menghasilkan buah yang tak pernah bisa dirasakan oleh orang lain. Itulah ayahku.

ohh ayah, andaikan sedikit saja kita bisa bicara, aku ingin sekali menanyakan bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau sehat-sehat saja? sudahkah kau makan pagi ini? Tapi waktu kini sudah memisahkan kita.

ohh ayah, mungkin jasamu tak akan bisa aku lupakan, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih sudah membesarkanku sampai seperti ini, aku hanya bisa berterimakasih. Sampai jumpa ayah. Doaku selalu menyertaimu. Aku akan berusaha menjadi anak yang sholeh, aku akan jaga ibu selalu..

∼ Cerita Sedih Keluarga ∼

-Tamat-

Kisah Nyata Kehidupan

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Seorang anak kecil berumur 10 Tahun, bernama Umar. Seorang anak yang terlahir dari seorang keluarga pengusaha sukses yang sangat kaya. Umar diberikan pendidikan yang sangat bagus oleh orang tuanya, dengan maksud agar dia bisa meneruskan usaha orang tuanya.

Umar di sekolahkan di salah satu sekolah SD Internasional yang sangat terpandang di Jakarta. Tidak bisa dibayangkan lagi berapa uang yang harus dikeluarkan, karena seorang yang sangat kaya. Hal tersebut tidak menjadi masalah besar.

Suatu saat, sang istri (Ibu Umar) memberitahu kepada suaminya (Ayah Umah) bahwa sabtu depan dirinya di undang untuk menghadiri Father’s Day di sekolah umar.

Dia pun menjawab : “Kamu aja deh yang datang aku sibuk, banyak kerjaan di kantor”

Bagi ayah Umar acara seperti ini tidak terlalu penting, jika dibandingkan dengan urusan di perusahaannya. Akan tetapi saat itu ibu Umar marah kepada sang suami, lantaran setiap ada acara yang melibatkan kehadiran orang tua dirinya tidak bisa ikut.

Karena acara tersebut adalah acara atau perkumpulan tentang ayah para murid, jadi akan sangat aneh jika yang datang ibunya. Dengan terpaksa ayah Umar datang menghadiri Father’s Day yang diselenggarakan di sekolah Umar.

Karena datang dengan berat hati, ayah Umar mengambil posisi duduk di kursi paling belakang. Sementara ayah murid-murid yang lain berebut kursi paling depan untuk melihat penampilan setiap anaknya. Karena Father’s Day diselenggarakan guna memperlihatkan kemampuan setiap murid.

Satu-persatu murid menampilkan keahliannya masing-masing, ada yang bernyanyi, menari, berpuisi dan lain sebagainya.

Tibalah giliran Umar untuk maju kedepan untuk menampilakan kebolehannya. Umar berkata : “Miss, bolekah saya memanggil Pak Arif, seorang guru mengaji Umar di sekolah itu”

“Oh, tentu boleh anakku” jawab guru tersebut

“Pak Arief tolong untuk menyimak saya, karena saya akan membaca Al-Qur’an” kata Umar pada Pak Arief

Dengan khusuk Umar melantunkan ayat Al-Quran tepatnya surat An-Naba’ atau juz 30 dengan menggunakan nada “Syaikh Sudais”

Semua hadirin terpana dengan indahnya lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh Umar. Setelah sampai ayat 5 Pak Arief mengatakan “berhenti” kamu membaca dengan sempurna Umar, coba kamu lanjutkan sampai ayat 9

Setelah itu sampai ayat 9 beliau juga berkata stop, lanjutkan sampai ayat 21, begitu seterusnya sampai selesai.

Subhanallah, Umar kamu telah menyelesaikan Surat An-Naba’ dengan sempurna, kata pak Arief memuji Umar

Karena bacaan yang indah dari umar, tamu undanganpun tidak bisa membendung air matanya karena indahnya bacaan Umar.

Lantas pak Arief Bertanya pada Umar, “wahai anakku apa yang membuatmu memilih menunjukkan kebolehan untuk membaca Al-Quran, sedangkan teman-temanmu menampilkan kebolehan yang lain”

Begini pak, saat dulu saya malas mengikuti pelajaran bapak (mengaji), engkau menegur saya.

Lalu engkau membacakan sabda Rasulullah, “barang siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya pada hari kiamat ia akan diberikan sebuah mahkota yang cahayanya lebih terang dari pada matahari. Dan juga orang tuanya akan diberikan jubah kemuliaan yang tidak pernah didapatkan di dunia.

Begini pak Arief, saya berkeinginan untuk memberikan jubah itu kepada ayah dan ibu saya agar saya termasuk orang-orang yang berbakti pada orang tua saya. Begitu kata Umar, anak berusia 10 tahun itu

Semua tamu hadirin terdiam dan air mata semakin deras menyucuri pipinya karena mendengan perkataan Umar tersebut.

Saat suasana sedang hening, tiba-tiba terdengan teriakan takbir dari kursi tamu bagian belakang, sambil bergegas menuju panggung pertunjukkan.

Dialah ayah Umar, dengan segera dia menghampiri dan menubruk umar, sambil memeluk kaki anaknya.

Maafkan ayah Umar, selama ini ayah tidak memperhatikanmu, tidak sempat mengajarkanmu tentang ilmu agama, dan juga tentang membaca Al-Quran, ucap ayah Umar

Ayah ingin agar saat engkau dewasa kelak engkau dapat menjadi seorang yang sukses di dunia seperti ayah. Namun engkau malah memikirkan bagaimana ayah dan ibu bisa mulia di hadapan Allah, maafkan ayah umar. – Kisah Nyata Hidup, Kisah Nyata Hidup, Kisah Nyata Hidup, Kisah Nyata Hidup

Kisah Nyata Mengharukan

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Cerita ini disampaikan oleh seorang Syaikh Abdul Muhsin

Cerita ini terjadi di saat pernikahan seorang wanita yang sangat kepada Allah dalam setiap keadaan. Tepatnya setelah sholat maghrib, karena untuk memeriahkan acara pernikahannya dia menghiasi dirinya, memakai gaun, jilbab besar, make-up guna menyambut para tamu yang hadir di acara pernikahannya.

Namun saat akan keluar menyambut para tamu yang hadir, terdengarlah lantunan adzan isya’ “Allaahu akbar, Allaahu akbar”

Dengan ucapan yang sangat sopan wanita ini meminta izin kepada ibunya untuk mengerjakan sholat isya’ terlebih dahulu. Karena wanita ini terkenal dengan ketaatannya kepada Allah.

Karena telah berhias dengan memakai make-up ibu wanita tersebut berkata, apa kamu sudah gila? Para tamu sudah datang dan menunggumu, jika engkau sholat dan berwudhu maka akan luntur make-up mu.

Wanita tersebut berkata dengan santun pada ibunya, “Ibu tahu kan jika Sholat adalah perintah Allah, yang tidak dapat ditawar lagi”

Iya tapikan kamu bisa sholat seusai kamu menemui tamu, saut ibu kepada wanita tersebut. Demi Allah jika engkau sholat dan berwudhu saat ini ibu akan marah kepadamu.

Demi Allah, sholat adalah ibadah yang tidak boleh ditawar lagi bu, dan tidak ada ketaatan kepada makhluk selama itu bermaksiat kepada Allah, jawab wanita itu kepada ibunya.

Tapi bagaimana dengan acara kita nak? Para tamu sudah menunggu, mereka pasti akan mentertawakanmu jika engkau datang kepada mereka tanpa memakai make-up. Pasti engkau akan terlihat jelek. Jawab ibu kepada wanita tersebut.

Wahai ibuku, jika engkau menyukai aku terlihat cantik di hadapan manusia, tidakkah engkau senang melihat aku cantik di hadapan Allah. Dengan melakukan wudhu dan sholat tepat waktu maka aku akan terlihat cantik dihadapan Allah.

Sang ibupun tidak bisa lagi mencegah kemauan putrinya untuk segera melaksanakan sholat. Wanita tersebut segera berwudhu kemudian masuk ke dalam ruangan untuk mendirikan sholat isya.

Setelah cukup lama, sang ibu mulai curiga dengan anaknya, kenapa dia sholat lama sekali? Karena para tamu sudah menunggu, sang ibupun menghampirinya. Betapa terkejutnya saat ia membuka ruangan itu, ia melihat putri tercintanya meninggal dunia dalam keadaan sujud. – Kisah Nyata Sedih, Kisah Nyata Sedih, Kisah Nyata Sedih

Kisah Nyata Islami

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Pada jaman dahulu ada seorang anak yang terkenal rajin, namun disisi kerajinannya dia juga terkenal sebagai murid yang tidak pintar. Dirinya sering tertinggal dari teman-teman sekelasnya, dan hal itu membuat dirinya menjadi minder bahkan hingga patah semangat.

Karena merasa patah semangat, dirinya memutuskan untuk pulang ke rumahnya, agar semangatnya kembali tumbuh. Setelah berbicara kepada gurunya dia pun segera melakukan perjalanan. Akan tetapi ditengah perjalanan hal yang tidak terduga pun terjadi.

Ditengah perjalanan pulang hujan mengguyur dengan sangat lebat, dan mengharuskan anak ini mencari tempat berteduh. Anak ini pun memutuskan untuk berteduh di goa.

Saat berada di dalam goa, anak ini menemukan sebuah hal yang cukup menarik perhatiaannya. Anak ini melihat sebuah air yang menetes di atas batu yang keras, tes, tes, tes. Anak ini pun memperhatikan kejadian itu dengan seksama.

Setelah mengamati kejadian tersebut beberapa saat, anak ini mengambil pelajaran. Anak ini mempunyai sebuah kesimpulan yang sangat luar biasa “batu yang sangat keras saja bisa dilubangi dengan setetes air yang sangat lembut, bagaimana dengan otakku yang tidak lebih keras dari batu ini”

Setelah melihat kejadian itu, semangat anak ini pun kembali tumbuh, dan dia memutuskan pulang ke sekolahnya untuk kembali menuntut ilmu.

Sesampainya di sekolah anak ini menceritakan peristiwa yang dilihatnya kepada gurunya. Karena melihat semangat dari anak ini sang guru kembali mengajarkan ilmu-ilmu kepada anak ini. Setelah kejadian tersebut, anak ini memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa, bahkan dirinya mampu melampaui kecerdasan teman-temannya.

Dialah seorang Ibnu Hajar Al-Asqolani, seorang ulama yang memiliki banyak karangan. Dari kisah tersebut bisa kita ambil pelajaran bahwa walaupun kadang-kadang kita sulit untuk menerima ilmu, jika kita melakukannya dengan tekun insyaallah ilmu tersebut lama-kelamaan akan masuk ke jiwa kita selama kita mau berusaha dan berdoa.

Kisah Nyata Inspiratif

Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup
Kisah Nyata Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup

Kisah Kehidupan Nyata yang Inspiratif dari Stephen Hawking

Stephen Hawking adalah seorang ilmuwan asal Inggris yang lahir pada 8 Januari 1942 dari pasangan Frank dan Isobel Hawking. Beliau adalah anak pertama dari empat bersaudara yang tumbuh besar di Kota St. Alban, London. Meskipun semasa hidup beliau dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, tapi ketika masih kecil beliau dikenal sebagai murid yang malas.

Namun, hal itu berubah ketika beliau mengenal Dikran Tahta yang merupakan guru matematikanya. Hawking sangat mengagumi Mr. Tahta karena bisa membuat pelajaran matematika yang begitu membosankan menjadi menyenangkan. Dari gurunya itu pula, dia terinspirasi untuk menjadi seorang guru besar matematika di Universitas Cambridge.

Diawali dengan kecintaan terhadap matematika itulah beliau menjadi belajar lebih rajin untuk menggapai cita-citanya. Dengan bantuan Mr. Tahta, beliau pun berhasil merakit komputer menggunakan bagian mekanik jam, papan kabel telepon yang sudah tidak terpakai, dan banyak lagi komponen daur ulang yang lain. Keren, ya?

Melihat kecerdasan sang anak, orangtuanya pun menyarankan Stephen untuk berkuliah di Oxford. Meskipun sangat menyukai matematika, di universitas tersebut beliau mengambil jurusan Fisika dan Kimia karena belum ada jurusan Matematika di sana. Beliau pun berhasil masuk di Universitas Oxford pada tahun 1959, ketika usianya hanya 17 tahun saja.

Setelah lulus dari Oxford, Stephen kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan kosmologi di Universitas Cambridge. Sayangnya ketika berusia 21 tahun, beliau didiagnosa menderita Amytrophic Lateral Sclerosis (ALS), yaitu penyakit yang melemahkan otot dan merusak fungsi otak. Dokter juga mengatakan bahwa sisa umurnya mungkin tidak akan lama lagi.

Setelah mendapatkan diagnosa itu, beliau mengalami depresi dan merasa hidupnya tidak berguna lagi. Tapi, dengan dukungan orang-orang di sekitar, beliau berhasil mengatasi itu semua. Meskipun hidup di atas kursi roda dengan segala keterbatasannya, beliau mampu menghasilkan banyak karya demi kemajuan ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Teori Big Bang. – Kisah Nyata Inspiratif, Kisah Nyata Inspiratif

Baca Juga:

Sekian informasi seputar 6 Kisah Nyata: Cinta, Sedih, Islami, Inspiratif, Hidup. Semoga bermanfaat. Salam.

Nih buat jajan

Leave a Comment

Your email address will not be published.