Beranda Desa Adat Bukit ‘Bnoko Kaenbaun’: View Sunrise dari Puncak Tunbaba di TTU

Bukit ‘Bnoko Kaenbaun’: View Sunrise dari Puncak Tunbaba di TTU

Bukit Kaenbaun (Bnoko Kaenbaun) adalah bukit batu karang terjal yang menjadi tempat bermukim pertama kali empat suku utama (Basan, Timo, Taus dan Foni) ketika suasana perang suku masih berkecamuk di seluruh pulau Timor.

Bukit Bnoko Kaenbaun – Di samping mempunyai alam yang indah, kabupaten TTU pun mempunyai kebudayaan yang unik untuk dinikmati. Gadis Timor yang sedang menenun kain ikat tradisional. Mulai dari sistem adat yang unik, kerukunan dalam masyarakat yang kokoh, adat yang kental serta sekian banyak upacara adat laksana peresmian lokasi tinggal adat sampai tempat-tempat pemali, semuanya paling sayang bila dilewatkan.

Masyarakat TTU pun mempunyai kerajinan tenun ikat yang sudah terkenal sampai mancanegara. Tenun ikat sangat khas berasal dari wilayah Insana. Hampir seluruh gadis desa harus bisa menguasai tenun ikat sebelum menikah. Hal ini dimaksudkan supaya mereka dapat menghasilkan bete(kain yang dikenakan pria) atau tais(kain yang dikenakan wanita) untuk keluarga juga dapat menjadi sumber penghasilan untuk mereka di samping dari hasil kebun dan lainnya.

Di samping tenun buna, Kefamenanu pun kaya akan hasil alam batu marmer dan batu merah. Salah bangunan yang memakai batu merah asli Kefamenanu ialah Gereja Santo Antonius Padua Sasi. Dilihat dari bentuknya, gereja itu tidak seperti gereja di NTT pada umumnya. ( Review Gereja St. Antonius Padua Sasi akan kami muat dalam artikel mendatang)

View this post on Instagram

Kaenbaun kemarin kemarin kemarinnya lagi

A post shared by 🌏I am me 🐬 (@nurliahapryanti) on

Desa Kaenbaun,TTU

Desa Kaenbaun, yang meliputi sekitar 1.000 ha, terletak di kecamatan Miomaffo Timur, di kabupaten Timor Tengah Utara. Lokasi kampung tradisional ini cukup dekat dengan Kefamenanu, yang merupakan ibukota Kab TTU. Lingkungan fisik desa Kaenbaun bergunung-gunung, zona tempat tinggal (kuan) terletak relatif di tengah-tengah wilayah tradisional seluas 1.000 hektar. Di kampung Kaenbaun, ada sungai yang airnya jernih dan tidak mengering sepanjang tahun, bentuknya membungkus dirinya di tengah-tengah wilayah tradisional desa. Penduduk Kaenbaun menggunakan sungai sebagai bagian dari sistem pemukimannya, sehingga desain koloni mengikuti lekukan sungai. Beberapa orang bahkan memndirikan rumahnya di dekat sungai untuk menggunakannya di belakang rumah mereka.

View this post on Instagram

Squad 😎

A post shared by satria da cruz (@satriadacruz) on

Nama “Kaenbaun” diambil dari nama leluhur mereka (Neon Kaenbaun) yang sekaligus menjadi nama bukit tempat ia dimakamkan di puncaknya. Bukit Kaenbaun (Bnoko Kaenbaun) adalah bukit batu karang terjal yang menjadi tempat bermukim pertama kali empat suku utama (Basan, Timo, Taus dan Foni) ketika suasana perang suku masih berkecamuk di seluruh pulau Timor. Mereka dapat selamat karena mendapat perlindungan secara fisik oleh bukit karang tersebut. Sebenarnya ada tiga versi lain tentang nama Kaenbaun, yaitu (1) Kaenbaun artinya bertahan asli atau taat kepada leluhur, (2) Kaenbaun artinya belum pernah terkalahkan dalam perang suku, dan (3) Kaenbaun terkait dengan legenda adanya ”batu gong” yang keramat di bawah bukit Kaenbaun (di dalam goa di bawah tanah pada Bnoko Kaenbaun).

Pekerjaan utama warga Kaenbaun adalah petani lahan kering, yang menanam jagung sebagai tanaman utama yang disucikan dengan upacara adat yang ketat dalam proses penanaman hingga pemetikannya. Selain itu mereka juga menanam padi ladang dan tanaman biji-bijian yang lain serta sayur-mayur yang diperlukan. Jagung sebagai tanaman suci diperlakukan istimewa. Jagung hasil petik di kebun disimpan di dalam rumah bulat (umebubu) yang merupakan bangunan suci keluarga karena di dalamnya terdapat batu suci keluarga untuk pelaksanaan doa keluarga. Jagung upeti dari setiap keluarga atau suku disimpan di rumah suku (umesuku) sebagai bibit yang suci karena ketentuan leluhur mengharuskan demikian. Sistem pertanian di Kaenbaun adalah ladang berpindah, yang berpindah-pindah di dalam lingkungan tanah adat mereka secara teratur untuk memberi kesempatan lahan-lahan menjadi subur kembali dan hasilnya besar.

Baca juga: Gua Maria Bitauni: ‘Siti Bitauni’ Mencari Damai di Biinmaffo, Kefamenanu

Keunikan Masyarakatan

View this post on Instagram

SUNSET BNOKO KAENBAUN

A post shared by Elpin Basan (@ellpin_basan) on

Desa Kaenbaun adalah desa tradisional Timor yang ditinggali oleh empat “suku besar” (disebut “suku laki-laki”), yakni suku Basan, Timo, Taus dan Foni dan empat “suku kecil” (disebut “suku perempuan”), yakni Sait, Salu, Kolo dan Nel yang hidup bersama dan bersaudara di dalamnya. Kedelapan suku di desa Kaenbaun termasuk ke dalam kelompok suku Dawan dan menggunakan bahasa Dawan. Suku Basan sebagai suku yang pertama kali datang di tempat itu dianggap sebagai “suku raja”, kemudian diikuti bergabungnya tiga suku yang lain (Timo, Taus dan Foni) sebagai suku-suku perintis awal. Dengan demikian, ke empat suku awal ini dianggap sebagai “suku pemilik desa” atau pemimpin kehidupan desa, seperti berlaku pada hampir semua suku-suku di Timor.

Desa Kaenbaun dari aspek sejarah terletak di dalam wilayah kerajaan kuno yang bernama Tunbaba. Desa Kaenbaun berbeda dari desa-desa lain di dalam diwilayah Tunbaba, sebab ia memiliki status sebagai desa otonom, yaitu memiliki raja lokal (suku Basan) berkat perjuangan tokoh lokal dan disetujui oleh Tua Amo (Raja Oekusi, masa lalu). Status otonomi ini memiliki implikasi pada aturan dan ritual adat, sebab warga desa Kaenbaun hanya menyerahkan upeti-upeti kepada suku Basan, bukan kepada suku Ukat dan Sakunab yang menjadi Raja di kerajaan tradisional Tunbaba. Status tradisional tersebut masih dipertahankan dan dilestarikan hingga saat ini, dan muncul tatanan yang mapan bahwa suku Basan adalah Raja Perempuan di Tunbaba sedangkan suku Ukat dan Sakunab adalah Raja Laki-laki di Tunbaba (Willem Foni, Juli 2004).

Baca juga: Wisata Bukit Tuamese Miniaturnya Raja Ampat di Pulau Timor

Di desa Kaenbaun terdapat rumah adat yaitu tempat suci untuk mengadakan ritual adat. Ada lima buah rumah adat yaitu untuk empat suku pendiri desa (Basan, Timo, Taus dan Foni) dan satu rumah adat untuk suku perempuan (direpresentasikan pada rumah adat suku Nel). Kelima rumah adat suku di Kaenbaun tersebut terletak berdekatan dan di area pusat permukiman, sehingga sapat dikatakan merupakan ”pusat lingkungan” yang bernilai tradisi lokal. Rumah adat tersebut memiliki ciri dua tiang dan dua altar yang terletak di luar dan di dalam rumah adat. Tiang atau altar luar disebut haumonef (kayu laki-laki) dan tiang di dalam rumah adat dipahami sebagai tiang perempuan yang di bawah tiang terdapat batu suci leluhur. Upacara adat di rumah adat selalu dimulai dari doa di altar luar yang intinya mengundang roh-roh leluhur untuk hadir dalam upacara adat yang disiapkan. Selanjutnya, upacara adat dilaksanakan di dalam rumah adat, berdoa menghadap tiang perempuan di dalam rumah adat dan batu suci yang ada di bawahnya.

Panorama Bukit

Dalam tradisi penduduk setempat, Bnoko Kaenbaun dikenal sebagai lokasi suci untuk Suku Basan di Kaenbaun. Setiap tahun sebelum acara berkebun, semua anggota Suku Basan pergi mengerjakan ritual eksklusif di lokasi ini, dipercayai untuk mendapat restu leluhur yang menempati gunung Batu Bnoko Kaenbaun supaya hasil panen mereka cocok dengan harapan.

View this post on Instagram

ukm usi unu #puncakgunungbatu #kaenbaun

A post shared by Ryidha Florida (@ryidhaflorida) on

Untuk Anda yang hendak melawat ke tempat tersebut, diwajibkan mengikuti ketentuan adat yang berlaku disini, harus terlebih dahulu ‘permisi’ ke tetua adat suku Basan sebagai empunya Bnoko Kaenbaun.

Di samping itu, di puncak bukit, Pengunjung dilarang menyentuh batu di atas puncak. Diyakini bahawa andai batu tersebut diketuk/dipukul akan mengeluarkan bunyi serupa gong, hal ini akan berimbas pada masyarakat desa dimana akan terjadi bencana yang tak di inginkan.

Baca juga: Eksotisme Pantai Wini dan PLBN Wini di Insana Utara Kefamenanu

Masyarakat berkeinginan lokasi ini mendapat perhatian dari Tokoh Adat dan Pemerintah Daerah setempat, guna terus didorong promosinya dan Bnoko Kaenbaun dapat dijadikan sebagai salah satu tempat Wisata Alam atas keberadaanya yang memukau di Desa Kaenbaun, Kefamenanu, Kabupaten TTU .

Akses ke Lokasi Bukit

Jika Anda dari Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, terlebih dahulu Anda memesan mobil/travel dengan tujuan ke Kota Kefamenanu dengan kisaran harga Rp. 100.000. Atau Anda bisa menggunakan angkutan umum ‘bus’ jurusan Kupang – Kefa dengan sekali jalan ongkosnya Rp.50.000.

Sesampainya di Kota Kefa, Anda bisa memesan penginapan di sekitar kota. Hotel Livero, salah satu favorit disini. Usahakan perjalan pagi menuju Desa Kaenbaun, agar bisa memiliki cukup waktu untuk mendaki ke puncak bukit. Tentunya harus ada pemandu lokal atau tetua adat Basan di Kaenbaun. Sesampainya di puncak bukit, jika beruntung Anda bisa menikmati momen matahari terbit dengan bayang-bayang Kota Kefa dibawahnya. Sungguh eksotis 🙂

Jarak dari Ibu Kota Kabupaten TTU menuju tempat gunung batu selama 11 Km. Perjalanan tempuh menuju Desa kaenbaun dapat mengunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Untuk fasilitas di Desa Kaenbaun belum ada. Jadi Anda harus memesan terlebih dahulu di Kota Kefa. Tidak tersedia restoran/warung makan disini, jadi diharapkan Anda membawa bekal sendiri.

Meski belum perhatian sungguh-sungguh, Bnoko Kaenbaun yang terletak di Perkampungan lama, Desa Kaenbaun, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur perlahan diketahui kalangan luas dan digemari para pemburu sunset saat menjejakan kaki di Kota Kefa dan sekitarnya.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan

Bukit Bnoko Kaenbaun masih terjaga dan sangat alami. Bukit Batu dengan bongkahan bongkahan tajam menambah ‘kegarangan’ disetiap sudut bukit ini. Aktivitas seru yang bisa Anda lakukan selain trakking, menanti matahari terbit bisa juga untuk Anda yang suka berswafoto disini. Tentunya lokasi ini sangat instagramble.

Peta Lokasi Bukit

Referensi

POSTING MENARIK LAINYYA