Manggarai BaratNusa Tenggara TimurPulau FloresTravelling

Sawah Lodok Cancar. Jaring Laba Laba dari Flores

Sawah format lodok, cuman satu-satunya di dunia, dan menjadi keunikan atau kebiasaan masyarakat Manggarai yang perlu dijaga kelestarianya.

Sawah Lodok Cancar – Petani padi sawah nyaris dapat dijumpai di 8 kabupaten yang terdapat di pulau Flores. Namun yang terbanyak berada sisi barat, di tiga kabupaten yang dulunya satu kabupaten Manggarai, sebelum dimekarkan menjadi Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.

Polanya dengan unik garis panjang dari titik tengah yang dalam bahasa Manggarai dinamakan lodok sampai ke bidang terluar atau cicing.
Polanya dengan unik garis panjang dari titik tengah yang dalam bahasa Manggarai dinamakan lodok sampai ke bidang terluar atau cicing.

Namun tidak hanya hasil sawahnya. Keunikan sawah di Manggarai seperti di Kecamatan Lembor Manggarai Barat, Cancar di Kecamatan Ruteng Manggarai dan Kampung Rawang, Kecamatan Lambaleda Manggarai Timur ialah pada bentuknya. Ya, sawah di lokasi ini berbentuk seperti jaring laba-laba atau yang dinamakan lodok dalam bahasa lokal.

Bentuk sawah menarik ini, untuk masyarakat Manggarai berhubungan dengan fungsi sawah yang berhubungan dengan pola pengelolaan lahan secara adat. Lingko, demikian sistem pembagian sawah disebut, adalah tanah adat yang dipunyai secara komunal untuk mengisi kebutuhan bareng masyarakat adat yang pembagiannya dilaksanakan oleh ketua adat.

Filosofi Lodok dan Jari Tangan

Sistem pembagian lahan sawah oleh leluhur Manggarai dilaksanakan secara berpusat. Dimana titik nolnya terletak di tengah-tengah lahan ulayat yang bakal dibagi-bagi.

View this post on Instagram

#lodok

A post shared by @ oni_jelima on

Polanya dengan unik garis panjang dari titik tengah yang dalam bahasa Manggarai dinamakan lodok sampai ke bidang terluar atau cicing. Filosofinya mengikuti format sarang laba-laba, dimana lodok, unsur yang kecil di bagian dalam (tengah) dan keluarnya kian lama semakin berbentuk lebar.

Kewenangan membagi tanah komunal terdapat pada Tu’a Teno (ketua adat), awalnya pembagiannya dilaksanakan melalui ritual adat Tente atau menancapkan kayu teno di titik episentrum lodok. Saat darah kambing tercurah diatas kayu teno, menandakan pembagian lahan tersebut telah sah secara adat

Sawah format lodok, cuman satu-satunya di dunia, dan menjadi keunikan atau kebiasaan masyarakat Manggarai yang perlu dijaga kelestarianya.

Tu’a Teno atau ketua adat dan Tu’a Golo atau tua dusun umumnya bakal mendapatkan bagian paling luas sawah lebih besar. Konon pembagian tanah ulayat mengekor rumus moso (jari tangan) dicocokkan dengan jumlah penerima tanah warisan dan keturunannya.

Sesuai formula moso, pembagian tanah diprioritaskan untuk petinggi dusun beserta keluarganya, yang lalu diikuti warga biasa dari penduduk suku, baru setelahnya dari penduduk luar suku.

View this post on Instagram

Nona belanda….

A post shared by Komodo ~Kelimutu ~Wae Rebo (@komodo_trip_murah) on

Secara adat penduduk luar pun dapat mempunyai lahan sawah dengan memintanya ke Tu’a Golo atau tetua kampung. Caranya dengan membawa seekor ayam jantan dan arak atau Kapu Manuk Lele Tuak dan diabsahkan melalui sidang dewan dusun yang di pimpin Tu’a Golo yang diabsahkan oleh Tu’a Teno.

Sejarah Sawah Lodok Cancar

Sistem pertanian di Manggarai mulai dikembangkan semenjak Raja Aleksander Baruk memimpin bumi Nusa Lale Manggarai di tahun 1931-1945. Raja saat tersebut amat mendorong pengembangan pertanian, dengan mengirim tidak sedikit rakyatnya guna belajar menanam padi dan kopi sampai ke Singaraja Bali.

Sawah perdana di Manggarai ada di Lingko Loro dekat Rentung dan Nugi dekat Cancar yang sejak mula pembagiannya juga tetap mengekor pola lodok. Tempat ini tidak jarang disebut sebagai areal persawahan Sonto atau sawah percontohan yang luasnya mencapai 100 hektar.

Terdapat 11 hamparan sawah lodok yaitu Lingko Molo, Lingko Lindang, Lingko Pong Ndung, Lingko Temek, Lingko Jenggok, Lingko Lumpung, Lingko Purang Pane, Lingko Sepe, Lingko Wae Toso, Lingko Ngaung Meler serta Lingko Lumpung II yang terdapat di delapan dusun di Desa Meler, Cancar Kecamatan Ruteng yang semuanya dapat ditatap dari Puncak Weol.

Untuk menjangkau puncak bukit, dari pondok kepunyaan bapak Blasius, pengunjung mesti menapaki 250 anak tangga yang dibuat dari tumpukan tanah yang memakai bambu sebagai penahan mengekor jalan berbentuk zig-zag dengan memegang pagar bambu sebagai pegangan di pinggirnya.

Akses Ke Lokasi Sawah Lodok Cancar

Untuk mengkases tempat sawah jarring laba-laba di Cancar lebih mudah melewati Ruteng dengan jarak selama 20 kilometer dan dapat dicapai memakai kendaraan umum, serta dari Labuan Bajo berjarak selama 100 kilometer bisa ditempuh memakai bus penumpang dengan ongkos sekitar 80 ribu rupiah.

Baca juga:

Biaya Masuk ke Sawah Cancar

Jumlah trafik wisatawan ke tempat sawah jaring laba-laba masing-masing hari dapat mencapai 50 hingga 100 orang dan bertambah ketika liburan sekolah dan hari raya. Sebelum ke puncak bukit Weol, wisatawan mesti membayar retribusi Rp.10.000/orang.

Warga pun tak ketinggalan memasarkan kerajinan tangannya seperti kain sarung yang dipasarkan seharga Rp.300.000 hingga Rp.500.000 , serta selendang dihargai 100 ribu rupiah.

Wisatawan yang datang banyak sekali berasal dari luar negeri. Setelah mengunjungi tujuan wisata di Labuan Bajo seperti pulau Komodo dan Rinca, wisatawan datang ke Cancar dan berangjangsana ke dusun adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai.

Peta Lokasi


Nilai Artikel Ini.

User Rating: Be the first one !

KOMENTAR ANDA

0

Tags
Baca Selengkapnya
Back to top button
Close
Close