Beranda Desa Adat Suku Boti ‘Penjaga Tradisi Asli Tanah Timor’. Fakta dan Keunikanya

Suku Boti ‘Penjaga Tradisi Asli Tanah Timor’. Fakta dan Keunikanya

Kabupaten Timor Tengah Selatan, terletak di pulau Timor, Nusa Tenggara Timur mempunyai banyak budaya dan tradisi. Di kawasan sekitar 400,000 penduduk, terdapat beberapa kerajaan kecil.

Salah satu kerajaan yang bertahan ini adalah Kerajaan Boti, yang menduduki kawasan pergunungan di Daerah Kie di pedalaman Timor Tengah Selatan.

Papan Selamat Datang di Kampung Boti
Papan Selamat Datang di Kampung Boti

Kehidupan Masyarakat Kampung Boti,TTS

Suku Boti adalah keturunan asli “Atone Meto“. Daerah kerajaan Boti terletak kira-kira 40 kilometer dari pusat ibukota kabupaten TTS, So’e, secara administratif kini menjadi desa Boti Kecamatan Kie.  Karena letaknya yang sulit dijangkau di tengah pegunungan, Desa Boti tertutup dari peradaban canggih dan pertumbuhan zaman..

Berjalannya perputaran roda pembangunan seakan tidak menyentuh Kerajaan Boti. Warga Boti sampai kini masih hidup dalam kesahajaan dan tetap memegang teguh pada tradisi leluhur mereka. Kehidupan penduduk Boti sampai kini masih bergantung pada kerasnya alam daratan Pulau Timor.

Para Penari Suku Boti dalam Penyambutan Tamu
Para Penari Suku Boti dalam Penyambutan Tamu

Raja Boti, Usif Nama Benu, yang menggantikan ayahnya, Usif Nune Benu yang wafat pada bulan Maret 2005 silam. Usif ialah sebutan atau gelar yang diserahkan Suku Boti terhadap raja mereka yang adalah pemimpin adat dan spiritual penduduk Boti.

Sejak meninggalnya Usif Nune Benu, orang Boti menjalani masa berkabung. Selama tiga tahun lamanya, orang Boti tidak menyelenggarakan pesta-pesta adat. Berdasarkan keterangan dari sang Raja baru, Usif Nama Benu, seringkali mereka mengadakan pekerjaan pesta adat seusai panen, tetapi saat-saat masa berkabung ditiadakan untuk memuliakan sang ayah.

Para Pria Suku Boti
Para Pria Suku Boti

Fakta Dan Keunikan Suku Boti di Pulau Timor

Suku Boti, Sang Penjaga Tradisi Asli Tanah Timor memilik keunikan tersendiri yang menjadi ciri khas dari kampung ini. Berikut ini adalah fakta dan keunikan dari masyarakat Kampung Boti:

Berambut Panjang dan Tidak Boleh Sekolah

Dalam kehidupan keseharian ada pembagian tugas yang jelas antara kaum pria dan wanita. Para pria bertugas mengurusi persoalan di luar rumah, seperti berkebun, dan berburu. Sementara urusan rumah tangga, di berikan kepada kaum ibu.

Orang-orang Suku Boti yang ramah dan mempunyai kearifan lokal yang menjaga lingkungan.
Orang-orang Suku Boti yang ramah dan mempunyai kearifan lokal yang menjaga lingkungan.

Meskipun pembagian peran ini biasa dijumpai dalam sistem kekerabatan, terdapat satu urusan yang menciptakan warga Boti agak berbeda, mereka menganut monogami atau beristri satu.

Seorang pria Boti yang telah menikah pun dilarang mencukur rambutnya. Sehingga bila rambut mereka semakin panjang, mereka bakal menggulungnya laksana konde.

Bila keyakinan dan aturan adat Boti dilanggar, maka bakal dikenakan sanksi, tidak akan dinyatakan sebagai penganut keyakinan Halaika, berarti harus keluar dari komunitas suku Boti, sebagaimana yang terjadi pada putra sulung Laka Benu, kakak dari Raja Usif Nama Benu. Laka Benu yang seharusnya menjadi putra mahkota, memilih masuk agama Kristen sampai ia harus meninggalkan komunitas Boti.

Berdasarkan keterangan dari Molo Benu, di antara tua adat Suku Boti, yang adalah adik dari Usif Nama Benu, guna dapat terus mengawal dan menjalankan adat dan keyakinan mereka, anak-anak dalam satu keluarga dipecah dua, setengah dari anak-anak mereka diizinkan bersekolah sedangkan yang lainnya tidak diperkenankan bersekolah dengan tujuan supaya tetap teguh memegang adat tradisi mereka.

Wajah Polos Anak Anak Suku Boti
Wajah Polos Anak Anak Suku Boti

Aturan pendidikan untuk anak-anak Boti bertujuan supaya tercipta keseimbangan antara kehidupan masa kini dengan kehidupan menurut adat dan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.

Banyak kaum tua Boti yang tidak fasih bahkan tidak dapat berbahasa Indonesia termasuk sang raja, Usif Nama Benu. Sehari-hari mereka memakai bahasa asli Pulau Timor, Bahasa Dawan (Uab Meto). Namun demikian, bahasa bukan halangan untuk warga Boti guna menyambut tamu-tamu mereka yang datang ke desa mereka.

Keramahan dan senyum hangat mereka rasanya telah lebih dari lumayan sebagai media komunikasi, simbol keterbukaan mereka terhadap semua pengunjung yang hendak merasakan kedamaian dan kesahajaan di Desa Boti.

Halaika, Kepercayaan/Agama Asli Suku Boti

Suku Boti dikenal paling memegang teguh kepercayaan dan keyakinan mereka yang dinamakan Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yakni Uis Pah dan Uis Neno.

Proses Penyambutan Tamu Oleh Suku Boti
Proses Penyambutan Tamu Oleh Suku Boti

Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan mengawal kehidupan alam semesta beserta isinya tergolong manusia. Sedangkan, Uis Neno sebagai papa atau bapak yang adalah penguasa alam baka yang bakal menilai seseorang dapat masuk surga atau neraka menurut perbuatannya di dunia.

Menurut pandangan hidup orang Boti di Pulau Timor, insan akan selamat dan sejahtera bila merawat dan melestarikan lingkungan hidup. Dalam kehidupan mereka, segala sesuatu dapat didapatkan dari alam laksana halnya kebutuhan sandang yang diciptakan dari benang kapas dan pewarna yang mereka dapatkan dari tanaman di lingkungan sekitar mereka.

Tradisi ‘dipanggang’ selama 40 hari untuk ibu yang baru melahirkan

Bukan saja tradisi dalam keluarga saja yang keras dan terbelenggu peraturan. Ketika ada seorang ibu yang diambang proses persalinan, mereka akan memanggil dukun beranak untuk menolong kelahiran. Setelah proses persalinan selesai, Sang Ibu harus ‘dipanggang’ sekitar 40 hari. Dipanggang disini maksudnya, Sang Ibu dan bayinya bersama sama tidur di atas tempat tidur tradisional dan di bawah tempat tidur tersebut di taruh bara api dengan tujusn untuk mengembalikan kekuatan si ibu. Bayi yang baru dilahirkan juga diberi uang, dipakaikan kalung, serta dilayani dengan baik supaya kelak masa mendatang kehidupan si anak menjadi cerah.

Tamu yang hadir akan diberikan Sirih Pinang dalam wadah OKOMAMA oleh keluarga Raja Boti
Tamu yang hadir akan diberikan Sirih Pinang dalam wadah OKOMAMA oleh keluarga Raja Boti

Suku Boti Sangat Mencintai Alam Dan Menjaga Kebersihan Lingkunganya

Suku boti sangat mencintai alamnya. Dalam suku Boti ada ketentuan adat yang tidak mengizinkan warganya guna menebang pohon, andai tidak ada keperluan yang mendesak. Melihat urusan ini, maka tidak heran, bilamana di dalam perkampungan boti terlihat paling teduh dan rindang. Ini bertolak belakang sekali dengan wilayah Nusa Tenggara Timur kebanyakan, yang kering dan gersang.

Permaisuri Raja Boti sedang mengambil sayuran hijau di pekarangan
Permaisuri Raja Boti sedang mengambil sayuran hijau di pekarangan

Tidak hanya itu saja, kesucian sangat dipertahankan di wilayah ini. Di dalam perkampungan Boti, khususnya di dalam lokasi kerajaannya, tidak terdapat ceceran sampah di jalanan. Hampir setiap saat, semua perempuan Boti membersihkan perkampungan dari sampah.

Pekarangan dan jalan kampung Suku Boti yang bersih dan rapi.
Pekarangan dan jalan kampung Suku Boti yang bersih dan rapi.

Dilarang berburu hewan di area perkampungan Boti, ini bertujuan untuk menjaga dan melestarikan hewan-hewan supaya hidup di tanah Boti, dan tidak punah. Jika hendak berburu, maka itu dilaksanakan di luar perkampungan Boti.

Pencuri Tidak Dihukum Tapi Diberi Modal Oleh Raja Boti

Apa yang terjadi andai seorang pencuri tertangkap tangan? Kemungkinan terbesarnya ialah dihakimi masa hingga babak belur atau yang sangat ‘aman’ diangkut ke kantor Polisi.

Lopo di Kampung Boti, Tempat pertemuan dan rapat Raja dengan masyarakat Boti
Lopo di Kampung Boti, Tempat pertemuan dan rapat Raja dengan masyarakat Boti

Namun, tidak demikiann terjadi seperti di Kampung Boti, pencuri tak pernah menemukan hukuman sama sekali. Bahkan mereka malah diserahkan modal dengan pesan dia tidak akan mencuri lagi di lain waktu. Kalau si pencuri kedapatan mencuri kambing, si pencuri malah diberi kambing supaya sama dengan penduduk lain.

Sedangkan, andaikan ada penduduk yang mencuri hasil kebun, maka pencuri tersebut diberikan tanah supaya bisa berkebun dan mempunyai hasil sendiri.

Luar Biasa kan???

Raja Boti menolak untuk menerima bantuan Raskin


Menurut Raja Benu, ketika masyarakatnya mendapat Raskin, masyarakat bisa malas menanam kebun karena mereka merasa nyaman dengan bantuan.

Usif Nama Benu, Raja Kerajaan Boti
Usif Nama Benu, Raja Kerajaan Boti

Raja Benu mengatakan menolak Raskin tidak berarti menentang pemerintah. Namun menurutnya, hal itu dilakukan agar masyarakat tidak menjadi malas dan akhirnya meninggalkan gaya pertanian atau berkebun.

Suku Boti yang tetap menjunjung tinggi adat istiadat serta petuah leluhur mereka ini tidak jarang terbuka guna menerima siapa saja yang datang berkunjung. Hal ini diperlihatkan dengan Tulisan ‘Koenok Tem Ahoit Teu Pah Boti‘ dengan kata lain Selamat Datang di Kampung Boti dan ketika kita kembali akan ada tulisan ‘Koenom amfain ahoit teu Ho Sonaf‘ dengan kata lain Selamat Jalan kembali ke tempat tinggal anda.

Terbagi Menjadi Dua Kampung, Boti Dalam dan Boti Luar

Kampung ini terbagi menjadi dua, yaitu Boti Dalam dan Boti Luar. Jumlah warga Boti Dalam selama 77 Kepala Keluarga atau 319 jiwa, sementara Boti Luar selama 2.500 jiwa. Hanya Kampung Adat Boti Dalam yang mewarisi dan mempraktikkan tradisi lokal dan agama pribumi yang dinamakan Uis Neno Ma Uis Pah, dewa langit dan bumi.

Rumah Masyarakat Suku Boti
Rumah Masyarakat Suku Boti

Warga Boti Dalam bermukim di areal seluas 3.000 meter persegi yang dikelilingi pagar kayu. Sedangkan Boti Luar telah beragama. Mereka menganut Kristen Protestan dan Katolik.

FAINMATE, Upacara Setelah Memanen Hasil Kebun di Hutan Larangan

Mereka melangsungkan upacara adat tiga kali tiap tahun, yaitu saat mebersihkan kebun, sesudah menanam, dan sesudah memanen.

Ritual upacaranya ialah mulai dari menyiapkan hewan berupa kerbau, sapi, kambing, babi, atau hewan apa saja, serta hasil bumi, yaitu ubi, pisang, jagung.

Proses Pembuatan Pemintalan benang untuk dijadikan benang agar bisa ditenun (1)
Proses Pembuatan Pemintalan benang untuk dijadikan benang agar bisa ditenun (1)

Hasil bumi tersebut lantas diangkut ke lokasi upacara yang dinamakan Fainmate – yang berada di dekat hutan larangan. Luas hutan larangan selama 1.000-an hektare. Butuh sehari penuh guna sampai ke hutan tersebut dari perkampungan Suku Boti.

Di hutan tersebut juga diterapkan aturan, yaitu siapapun tidak boleh memungut apapun. Jika terdapat yang melanggar, misalnya memungut sebatang kayu yang telah roboh, orang itu harus menyiapkan persembahan berupa pemotongan hewan di hutan larangan.

Hasil dari bercocok tanam itu untuk dimakan sendiri oleh warga. Jika warga perlu uang, seringkali mereka memasarkan kemiri, asam, atau binatang. Pohon kemiri dan asam memang tumbuh banyak di sekitaran Kampung Adat Boti.

Di samping Fainmate, lokasi ritual lainnya terdapat di dalam kampung. Bentuknya bundar. Namun hanya raja yang boleh masuk ke dalamnya. Di dalam lokasi tersebut, tersimpan pusaka peninggalan leluhur.

Masyarakat Boti Dilarang Tidak Memakai Listrik dan Memiliki Televisi

Dengan ritual yang begitu kental, masyarakat Boti pun mempunyai aturan. Mereka tidak memakai listrik atau teknologi lainnya. Hanya sejumlah orang saja yang diizinkan mempunyai telepon seluler dan kendaraan bermotor. Genset listrik hanya tersedia di lokasi penginapan untuk para tamu. Tak terdapat satupun televisi di dusun itu.

Kita manusia ini menjaga alam, maka alam akan menjaga kembali kita. Ini dipertahankan dari keturunan sampai sekarang masih berjalan. Raja Nama Benu

POSTING MENARIK LAINYYA