Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment Jembatan

Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment Jembatan

Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment JembatanAbutment adalah bangunan bawah jembatan yang terletak pada kedua ujung jembatan, berfungsi sebagai pemikul seluruh beban pada ujung bentang dan gaya-gaya lainnya yang didistribusikan pada tanah pondasi.

Berikut ini kami uraikan tahapan dalam pelaksanaannya.

Pekerjaan diawali dengan pembuatan lantai kerja dan dilanjutkan dengan pembuatan footing abutment dimulai dengan pemasangan begisting/acuan pada tiap sisi samping footing.

Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment Jembatan
Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment Jembatan

Pemasangan tulangan untuk footing abutment, dipasang sesuai dengan dimensi dan jarak yang ada gambar kerja, pada tiap pertemuan anyaman tulangan dengan tulangan diikat dengan kuat menggunakan kawat bendrat.

Berikut ini tahapan pelaksanaan untuk Baja Tulangan:

  • Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk menghilangkan kotoran, lumpur, oli, cat, karat dan kerak, percikan adukan atau lapisan lain yang dapat mengurangi atau merusak pelekatan dengan beton.
  • Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan Gambar dan dengan kebutuhan selimut beton minimum yang disyaratkan.
  • Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat sehingga tidak tergeser pada saat pengecoran. Pengelasan tulangan pembagi atau pengikat (stirrup) terhadap tulangan baja tarik utama tidak diperkenankan.
  • Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang total yang ditunjukkan pada Gambar. Penyambungan (splicing) batang tulangan, terkecuali ditunjukkan pada Gambar, tidak akan diijinkan tanpa persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan. Setiap penyambungan yang dapat disetujui harus dibuat sedemikian hingga penyambungan setiap batang tidak terjadi pada penampang beton yang sama dan harus diletakkan pada titik dengan tegangan tarik minimum.
  • Bilamana penyambungan dengan tumpang tindih disetujui, maka panjang tumpang tindih minimum haruslah 40 diameter batang dan batang tersebut harus diberikan kait pada ujungnya.
  • Simpul dari kawat pengikat harus diarahkan membelakangi permukaan beton sehingga tidak akan terekspos.
  • Bilamana baja tulangan tetap dibiarkan terekspos untuk suatu waktu yang cukup lama, maka seluruh baja tulangan harus dibersihkan dan diolesi dengan adukan semen acian.
  • Tidak boleh ada bagian baja tulangan yang telah dipasang boleh digunakan untuk memikul perlengkapan pemasok beton, jalan kerja, lantai untuk kegiatan bekerja atau beban konstruksi lainnya.

Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment Jembatan
Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment Jembatan

 

Tebal selimut beton perlu diperhatikan dengan cara dipasang beton deck (ketebalan beton decking dibuat sama dengan tebal selimut beton) berfungsi untuk mengganjal tulangan pokok sehingga jarak besi tulangan dengan bekisting bisa terjaga dan didapat tebal selimut beton yang sesuai dengan rencana.

Tebal selimut beton pada bagian pile cap abutment dan pilar 75 mm, sedangkan untuk bagian pier head abutment dan pilar adalah 50 mm. Tebal selimut beton pada wing wall dan plat injak 50 mm.

Sebelum dilakukan pengecoran footing, tulangan untuk badan abutment harus sudah ditanam/dirangkai didalam footing.

Pengecoran footing menggunakan beton ready mix.dengan mutu beton yang sesuai spesifikasi abutment. Hal yang perlu diperhatikan selama proses pelaksanaan pengecoran, beton harus dipadatkan dengan cara digetarkan menggunakan alat penggetar mekanis/vibrator. Alat penggetar dimasukkan dalam adukan beton dan alat penggetar tidak diperbolehkan berada pada satu titik selama lebih dari 30 detik, kemudian alat penggetar ditarik perlahan dan dimasukkan lagi, jarak paling sedikit 45 cm dari titik sebelumnya. Ini penting dilaksanakan agar beton tidak keropos dan didapatkan beton yang padat dan rapat.

Setelah beton footing sudah cukup keras dan kuat, dilanjutkan pembuatan badan abutmen, dilakukan pemasangan tulangan untuk badan abutment kemudian dilanjutkan dengan pemasangan begisting/acuan untuk badan abutmen.

Pengecoran badan abutment dikerjakan bertahap maksimal setinggi tidak lebih dari 2 meter acuan utk menghindari kegagalan dari bekisting/acuan. Pengecoran badan selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama hingga mencapai kepala abutment (pier head).

Pengecoran back wall (pada abutment) dan balok sandung dilakukan setelah balok girder/galagar jembatan terpasang, hal ini untuk mempermudah pelaksanaan erection gelagar.

Pembuatan wing wall dapat dilakukan secara bersamaan dengan pengecoran abutment. Atau setelah pengecoran abutment selesai, dengan syarat saat pengecoran abutment pada posisi wing wall dipasang angkur sebagai ikatan dengan jumlah dan diameter besi yang sama dengan yang dipakai untuk penulangan wing wall itu sendiri. Mutu beton dan baja tungan untuk wing wall sama dengan yang digunakan pada abutment.

Pemadatan Beton saat pengecoran

Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar yang telah disetujui. Bilamana diperlukan, dan bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang cocok untuk menjamin pemadatan yang tepat dan memadai. Penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam cetakan.

Harus dilakukan tindakan hati-hati pada waktu pemadatan untuk menentukan bahwa semua sudut dan di antara dan sekitar besi tulangan benar-benar diisi tanpa pemindahan kerangka penulangan, dan setiap rongga udara dan gelembung udara terisi.

Penggetar harus dibatasi waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pemadatan yang diperlukan tanpa menyebabkan terjadinya segregasi pada agregat.

Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg, dan boleh diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata.

Setiap alat penggetar mekanis dari dalam harus dimasukkan ke dalam beton basah secara vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi sampai ke dasar beton yang baru dicor, dan menghasilkan kepadatan pada seluruh kedalaman pada bagian tersebut. Alat penggetar kemudian harus ditarik pelan-pelan dan dimasukkan kembali pada posisi lain tidak lebih dari 45 cm jaraknya. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 30 detik, juga tidak boleh digunakan untuk memindah campuran beton ke lokasi lain, serta tidak boleh menyentuh tulangan beton.

Pembongkaran Acuan / Bekisting

Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertical, dinding, kolom yang tipis dan struktur yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton. Cetakan yang ditopang oleh perancah dibawah pelat, balok, gelegar, atau struktur busur, tidak boleh dibongkar hingga pengujian menunjukkan bahwa paling sedikit 85 % dari kekuatan rancangan beton telah dicapai.

Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk pekerjaan ornament, sandaran (railing), dinding pemisah (prapet), dan permukaan vertical yang terekspos harus dibongkar dalam waktu paling sedikit 9 jam setelah pengecoran dan tidak lebih dari 30 jam, tergantung pada keadaan cuaca.

Perawatan Beton setelah Pengecoran

Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini, temperature yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus dijaga agar kehilangan kadar air yang terjadi seminimal mungkin dan diperoleh temperature yang relative tetap dalam watu yang ditentukan untuk menjamin hidrasi yang sebagaimana mestinya pada semen dan pengerasan beton.

Beton harus dirawat, sesegera mungkin setelah beton mulai mengeras, dengan menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air. Lembaran bahan penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 3 hari. Semua bahan perawat atau lembaran bahan penyerap air harus dibebani atau diikat kebawah untuk mencegah permukaan yang terekspos dari aliran udara.

Bilamana digunakan acuan kayu, acuan tersebut harus dipertahankan basah pada setiap saat sampai dibongkar, utuk mencegah terbukanya sambungan-sambungan dan pengeringan beton. Lalu lintas tidak boleh diperkenankan melewati permukaan beton dalam 7 hari setelah beton dicor atau setelah beton mencapai kekuatan minimum yang diisyaratkan.

Lantai beton sebagai lapis aus harus dirawat setelah permukaanya mulai mengeras dengan cara ditutup oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm paling sedikit selama 21 hari atau beton mencapai kekuatan minimum yang disyaratkan.

Beton yang dibuat dengan semen mempunyai sifat kekuatan awal yang tinggi atau beton yang dibuat dengan semen biasa yang ditambah bahan tambahan (aditif) harus dibasahi sampai kekuatannya mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari atau setelah beton mencapai kekuatan minimum yang disyaratkan.

Pengujian untuk kelecakkan Beton

Satu pengujian ‘’slump’’ atau lebih sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, harus dilaksanakan pada setiap adukan beton yang dihasilkan dan dilakukan sesat sebelum pengecoran, dan pengujian harus dianggap belum dikerjakan terkecuali disaksikan oleh Direksi Pekerjaan. Campuran beton yang tidak memenuhi ketentuan kelecakkan seperti yang diusulkan tidak boleh digunakan pada pekerjaan, terkecuali bila Direksi Pekerjaan dalam beberapa hal menyetujui penggunaannya secara terbatas dan secara teknis mutu beton tetap bias dijaga.

Kelecakkan dan tekstur campuran harus sedemikian rupa sehingga udara atau gelembung air, dan sedemikian rupa sehingga pada saat pembongkaran acuan diperoleh permukaan yang rata, halus dan padat.

Pengujian Kuat tekan Beton

Sejumlah hasil pengujian kuat tekan benda uji beton dari pekerjaan beton yang dilaksanakan. setiap hasil adalah nilai rata-rata dari dua nilai kuat tekan benda uji dalam satu set benda uji (1 set = 3buah benda uji) yang selisih nilai antara keduanya ≤ 5% untuk satu umur, untuk setiap kuat tekan beton dan untuk setiap jenis komponen struktur yang dicor terisah pada tiap hari pengecoran.

Untuk keperluan pengujian kuat tekan beton, harus dibuat/disediakan benda uji beton berupa selinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm atau kubus 150 x 150 x 150 mm, dan harus dirawat sesuai dengan SNI 03-4810-1998. Benda uji tersebut harus dicetak bersamaan dan diambil dari beton yang akan dicorkan, dan kemudian dirawat sesuai dengan perawatan yang dilakukan di laboratorium.

Untuk keperluan evaluasi mutu sebagai dasar pembayaran harus menggunakan data hasil uji kuat tekan beton sesuai dengan umur yang ditetapkan dalam kontrak. Hasil-hasil pengujian pada umur yang selain dari yang ditetapkan dalam kontrak hanya boleh digunakan untuk keperluan selain dari tujuan evaluasi mutu beton sebagai dasar pembayaran. Nilai-nilai perbandingan kekuatan yang digunakan untuk keperluan ini harus sesuai dengan grafik perkembangan kuat tekan campuran sebagai fungsi waktu.

Untuk pencampuran manual, maka pada pekerjaan beton dengan jumlah masing-masing mutu beton ≤ 60 m3 harus di peroleh satu hasil uji untuk setiap maksimum 5 m3 beton dengan minimum satu hasil uji tiap hasil uji tiap hari. Dalam segala hal jumlah hasil pengujian tidak boleh kurang dari empat hasil untuk masing-masing umur. Apabila pekerjaan beton mencapai jumlah > 60 m3, maka untuk setiap maksimum 10 m3 beton berikutnya setelah jumlah 60 m3 tercapai harus diperoleh satu hasil uji.

Untuk pengecoran hasil produksi ready mix, maka pada pekerjaan beton dengan jumlah masing-masing mutu ≤ 60 m3 harus diperoleh satu hasil uji untuk setiap maksimal 15 m3 beton secara acak, dengan minimum satu hasil uji tiap hari. Dalam segala hal jumlah hasil pengujian tidak boleh kurang dari empat. Apabila pekerjaan beton mencapai jumlah > 60 m3, maka untuk setiap maksimum 20 m3 beton berikutnya setelah jumlah 60 m3 tercapai harus diperoleh satu hasil uji.

 

Peralatan yang digunakan

  • Batching Plant
  • Concrete Pump,
  • Conctrete Vibrator,
  • Truck Molen,
  • Talang cor,
  • Alat ukur,
  • dan alat bantu lainnya

Baca Juga:

Metode Pelaksanaan Pembuatan Abutment Jembatan

Nih buat jajan

Leave a Comment

Your email address will not be published.